Minggu, 15 Februari 2015
Konsep dan Jenis Konsep dalam Arsitektur
Dalam proses perencanaan dan perancangan dalam arsitektur, salah satu hal yang penting untuk dibahas setelah analisis data adalah Tema dan Konsep, karena tema dan konsep ini selalu muncul dan mengikuti jalannya proses perencanaan dan perancangan, bahkan sepanjang proses dilakukan. Nah, menurut survey yang dilakukan secara kecil-kecilan (oleh penulis tentunyaJ), mahasiswa jurusan teknik arsitektur sendiri masih banyak yang belum mengerti secara pasti dan tepat apakah yang dimaksud dengan Tema dan Konsep, atau bisa tertukar antara Tema dan Konsep itu sendiri. Oleh sebab itu, saya mencoba membagi ilmu yang telah saya dapatkan selama belajar perancangan arsitektur, tentang Tema dan Konsep tentunya.
TEMA dan KONSEP
Tema adalah suatu pola atau gagasan spesifik yang berulang di seluruh desain pada suatu proyek.
Konsep adalah gagasan-gagasan memadukan berbagai unsur ke dalam suatu keseluruhan.
Kendala-kendala dalam pembuatan konsep
1. Komunikasi, terdiri dari:
Komunikasi dengan diri sendiri
Komunikasi dengan orang lain
Contohnya : sering membuat bahasa gambar, karena gambar lebih mudah dan cepat dipahami tujuan atau yang ingin disampaikan.
2. Tidak Berpengalaman
Maksudnya, perancang harus mengetahui deskripsi projeknya terlebih dahulu. Contohnya : projek Youth Hostel, yaitu pondok pemuda, atau Pusat Reaktor Nuklir adalah...(apa)
Sehingga dapat ditentukan tema dan konsepnya.
3. Identifikasi Hirarki yang tepat
Mengetahui kebutuhan dari projek, misalnya ruang-ruang umum yang dibutuhkan.
Contohny:
Rumah sakit, membutuhkan ruang operasi, ruang rawat inap, ruang dokter, ruang pemeriksaan, apotek, gudang, dan sebagainya.
Masjid, membutuhkan ruang sholat, ruang wudhu, KM/Toilet, ruang pengelola, dan sebagainya.
5 Jenis Konsep :
1. Analogi
Desain dnegan mengambil sifat, pola, atau unsur dari sebuah benda, didesain emnajdi bentuk yang berbeda.
2. Metafora
Mengambil bentuk nyata dan mendesain dengan menyerupai bentuk tersebut.
3. Esensi
Mengambil hakekat dari permasalahan atau hal yang mendasar dan yang paling penting untuk desain tersebut.
4. Programatik
Membuat bentuk sesuai fungsi dan kebutuhan, susunan ruang, tenpa memperhatikan bentuk atau tampak.
Konsep yang dikembangkan seputar persoalan-persoalan yang diidentifikasi dari program suatu bangunan.
5. Uthopia
Konsep berdasarkan cita-cita, khayalan/imajinasi, tidak biasa dipakai.
Reference :
http://dwifpputeri.blogspot.com/2011/04/tema-dan-konsep.html?m=1
Arsitektur Tradisional Papua
Bentuk Arsitektur tradisional Papua umumnya, masih pada taraf dimana manusia/penduduk benar-benar memanfaatkan segala sesuatu yang disiapkan oleh alam.
Sehingga konsep ini memang( adochis ) kesederahanaan arsitektur menjadi sesuatu yang sangat mendasar, karena segala sesuatu yang digunakan memang terinspirasi dari alam serta disediakan oleh alam dan merupakan nilai originil yang tetap terjaga. Dipapua setiap suku memiliki ragam/khasanah budaya arsitektur yang bebeda sesuai dengan situasi dan kondisinya, akibatnya lahir karya-karya arsitektur yang sangat luar biasa dengan lagam yang berbeda.
Contoh : suku yang tinggal di pegunungan mempunyai solusi untuk mengatasi permasalahan berdasarkan kondisi dan lingkungannya, demikian juga dengan suku yang tinggal di daerah pantai. Perbedaan yang sangat mendasar ini membuat sehingga timubul khasanah arsitektur tradisional berdasarkan kondisi dan lingkungan.
Ulasan :
Bentuk
Bentuk bangunan dalam arsitektur tradisional papua berorientasi pada bentuk –bentuk yang dinamis, selain itu konsep animisme dan dinamisme masih merupakan referensi/aturan yang kuat dalam masyarakat, sehingga melahirkan lagam arsitektur yang beraneka ragam ; Bentuk Arsitektur Tradisional lebih berorientasi kepada.
1. bentuk kotak
2. segi enam bertingkat 3 ( kariwari )
3. Lingkaran ( Pada Honai Suku Dani )
Struktur
Dari segi struktur maka bangunan, arsitektur tradisional papua masih menggunakan bahan yang di sediakan oleh alam seperti dinding dari kulit kayu, tiang rumah dari kayu, atap dari daun kelapa/alang-alang. Lantai dari kulit sagu/bambu. Ataupun menyentuh langsung ke tanah ( Umumnya dipegunungan/dipantai ).
Hal ini memperliatkan kesederhanaan arsitektur pada eksistensinya. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka bangunan yang ada dipapua. Baik rumah pribadi, sekolah, kantor istansi pemerintah/swasta, hotel, dll tak jarang notasi arsitektur tradisional budaya telah membaur menjadi satu, membentuk alkuturasi arsitektur. Sehingga konsep dasar arsitektur tradisional menjadi kerkikis. Namun adat istiadat, menjadi sesuatu yang paten dan tidak dapat diubah hal ini dikarenakan proses yang membentunya telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama sehingga, menjadi suatu kebiasaan yang berpola.
Reference :
https://othisarch07.wordpress.com/2010/02/18/arsitektur-tradisional-papua/
Fungsi,Ruang,Bentuk dan Ekspresi dalam Arsitektur
Menurut para moderenis, fungsi dapat di kategorikan sebagai penentu bentuk atau penduan menuju bentuk. Fungsi menunjukan kearah mana bentuk harus di tentukan.
( yuswadi saliya, 1999 ).
Hal ini mengacu kepada slogan form follows function ( Louis Sullivan )
Jika kita berbicara tentang arsitektur, maka kita tidak hanya bicara tentang fungsi dan bentuk saja. Masih ada unsur lain yang juga terkait erat dengan arsitektur, yang merupakan konsekuensi logisdari adanya fungsi. Karena fungsi merupakan gambaran dari kegiatan, dimana kegiatan tersebut membutuhkan fungsi, tentunya akan berlanjut dengan pembahasan tentang ruang. Sedangkan bentuk yang menurut sullivan merupakan akibat dari pewadahan fungsi, dapat memberikan ekspresi tertentu. Jadi pembahasan fungsi tidak dapat di pisahkan dari pembahasan tentang ruang, bentuk dan ekspresi bentuk yang di hasilkan.
Kaitannya dengan arsitektur adalah bahwa arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai wadah kegiatan mansusia. Bagaimana pun juga unsur-unsur fungsi, ruang, bentuk dan ekspresi akan menentukan bagaiama arsitektur dapat meninggikan nilai suatu karya, memperoleh tanggapan serta mengungkapkan suatu makna. Oleh karena penyajian ini adalah sebagai sarana untuk memecakan suatu masalah sebagai tanggapan atas kondisi-kondisi lingkupnya secara arsitektural yang saling berkaitan.
1.1. FUNGSI
A. Pengertian fungsi
Dari segi pengeriatan dapat di bagi menjadi :
1. Pengertian Umum Bagi Para Ahli Bahasa ( Linguist ) Fungsi Adalah :
pendekatan pada studi bahasa yang berkenan dengan fungsi yang di tunjukan oleh bahasa, terutama dalam hal kejadian ( informasi yang berhubungan ), ekpresi ( mengindikasikan suasana hati ), dan pergaruh keahlian.
2. Pengertian Umum Bagi Para sosiologis ( Linguist ) Fungsi Adalah :
Teori tentang hubungan bagian-bagian dalam masyarakat pada keseluruhan dan satu dengan yang lai. Pendekatannya terkemukan dalam pekerjaan sosiolog pada abad, khususnya mereka yang melihat masyarakat sebagai organisme.
3. Pengertian Arsitekturalnya adalah :
Suatu prinsip Arsitekturalnya dimana bentuk suatu bangunan harus di peroleh dari fungsi yang harus di penuhinya; aspek skematis dan teknis dari moderenisasi arsitektural ( rasionalisme ), yang pendirian teoritisnya yang lebih luas juga membentuk pertanyaan simbolik, filsafat, politik, sosial ekonomi.
Fungsi traditional understanding ; utility, fitnes for purpose ( ketepatan guna ),”task” ( tugas/ guna ) yang harus di penuhi oleh suatu bangunan. Efek atau pengaruhnya terhadap pengguna atau pengamat.commodity bagi teori vitu virus tentang ” commodity ”, firmness and delight”.
Firmness = technics ” , delight = form ”. Ketiganya adalah dimensi yang tidak telepaskan dari sebuah karya/ pekerjaan arsitektur, dan fungsi sendiri dapat di bicarakannya dalam tujuan-tujuan analisis dengan pengertian bahwa dalam kenyataannya fungsi tidak bisa ” ada ” ( exist ) tanpa bentuk dan material konstruksi dan teknik.
B. Multifungsionalitas Arsitektur
Dalam kegiatan perancangan kita tidak pernah lepas dari instilah ” Fungsi ”. Sayangnya istilah ini seringkali sangat di batasi pada pengertian sebagai aktifitas didalam bangunan maupun diluat bangunan. Tetapi pada prinsipnya pengertian fungsi sangat luas.
Berhubungan dengan hal ini, maka kita akan berhadapan dengan sebuah obyek yang melaksanakan satu atau beberapa atau bahkan seluruh fungsi. Hal inilah yang mendorong arsitektur untuk menjalankan berbagai fungsi, yang dikatakan Multifungsionalitas Arsitektur ( josef Prijotomo, 1998 ).
Beberapa tokoh yang berkecimpung dalam bidang arsitektur maupun diluar melontarkan beberapa fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitektur :
Geoffrey Broadhint
Menurutnya ada enam fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitektur enam fungsi tersebut adalah :
1. Environmental Filter ( =Modofier of the phsycal climate ). Bangunan bias mengontrol iklin. Bangunan berfungsi sebagai penyaring terhadap iklim di luar
(filter). Bangunan dapat membuat kita merasa aman dan nyaman untuk melaksanakan aktifitas kita. Kita dapat menentukan ruangan mana yang harus dekat dan mana yang harus di jauhkan.
2. Container of actifities. Bangunan sebagai wadah kegiatan yang menempatkannya pada tempat tertentu
3. Capital invesment (=changer of land value ). Bangunan dapat memberikan nilai lebih pada tapak. Dapat menjadi sumber investasi yang baik.
4. symbolic function ( = implication cultural ). Dalam pengertian ini bangunan dapat memberikan nilai Sombolik, khususnya keagamaan dan budaya.
5. Behavior modifier. Bangunan dapat mengubah kebiasaan dan perilaku, sesuai dengan suasana ruang.
6. Aesthetic function (= Pursuit of delight ). Bangunan akan menyenangkan jika tampak cantik, sesuai dengan fashionable saat ini.
Geoffrey Broadhint, memahami fungsi sebagai sesuatu yang di pancarkan dan di informasikan melalui panca indrkita.
Christian Notberg-Scuhltz
Memunculkan empat fungsi yang dapat dijalankan oleh arsitektur. Dalam menjawab : apa tugas bangunan :
1. phsycal Control. Peranan phsycal Control dalam fungsi bangunan adalah :
untuk mengontrol iklim.
*. Udara, kelembaban, temperetur, angin, curah hujan dan lain-lain
*. Hal-hal lain seperti, asap, serangga, hewan, manusia, dan radioaktif.
Secara umum physcal control adalah berupa hubungan bangunan terhadap lingkungan. Dapat mengontrol lingkungan sesuai dengan aktifitas yang dilakukan di dalam bangunan.
2. functional frame. Pada prinsipnya manusia selalu melakukan aktifitas oleh kerena itu di perlukan wadah Arsiterktural dalam menentukan fungsi dari tiap-tiap wadah yang di tentukan. Manusia membutuhkan ruangan untuk melaksanakan kegiatannya, fungsi ruangan dapat berubah apabila terjadi perubahan gaya hidup yang di dasari atas kebutuhan. Tak peduli jika ruangan dalam bentuk apapun ( bujur sangkar, lingkaran, elipse, dll ) yang terpenting fungsi dapat terpenuhi.
3. Social Milieu. Bisa menjadi ekxpresi statis, peranan, kelompok, institusi dan sekolompok bangunan yang dapat merepresentasikan system sosial sebagai suatu kesatuan. Contoh : istana raja dibuat lebih besar dari bangunan lain dengan tujuan, menunjukan status sosial.
Dari sinilah akan lahir ekxpresi bentuk, baik yang terjadi di dalam maupun di luat harus dapat memberikan suatu informasi. Tentang apa dan fungsi dari bangunan tersebut.
Bangunan dan ligkungan memberikan manusia tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan umum dan khusus.
4. Cultural symbolization. Arsitektur adalah obyek budaya dan merupakan hasil karya mansusia yang melayani aktifitas manusia secara umum. Kita telah sepakat bahwa seni menerangkan nilai budaya dan sains menerangkan fakta-fakta, dan seni adalah nilai-nilai budaya yang harus di masyarakatkan.
Larry R. Ligo
Ligo memunculkan lima Fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitekrur untuk menjawab fungsi sebagai konsep. Kelima fungsi bangunan menurut liggo ( dari concepts of function of the twentieth century Atchitecture ) adalah :
1. Structural Articulation ( artikulasi structural ) menunjuk pada pengupasan dalam design, dari material struktur dan metode sebuah bangunan ( misalnya “ fungsi “ material dan metode maupun pada artikulasi exterior bangunan dengan variasi kegiatan yang terkandung di dalamnya.
2. Physcal function. ( fungsi fisik ). Meliputi control dari lingkungan dan akomodasi bangunan terhadap aspek-aspek fisik dari tujuan yang di inginkan, aspek-aspek seperti pola jalan dan fleksibilitas dari pengaturan ruang.
3. Physcal function. ( fungsi Psiokoligi ). Mengacu kepada “feelings”
( perasaan atau rasa ) dimana bangunan-bangunan itu berbaur dengan pengamat- pengamatnya, penghuni/pemakai dan pengkritikannya, termasuk penyakit-penyakit psikologis seperti vertigo, clausphobia, kebingungan arah (direction), kenyamanan fisik atau kurangnya rasa dan emosi yang spesifik/khas.
4. Social function. ( fungsi Sosial ). Mengacu kepada kongkritisasi dari institusi social dan karakteristik yang bernilai budaya atau masa tertentu
5. Cultural/existential function. ( fungsi budaya/keberadaan ). Mengacu kepada kongritisasi dati nilai-nilai universal atau struktur subconcius dari spatial dan orientasi psikologi yang berhubungan lebih kepada esensi kemanusiaan dari pada hidup manusia dalam suatu waktu dan tempat tertentu.
Larry R. ligo memahami fungsi sebagai tugas/pekerjaan ataupun efek-efek yang dapat di timbulkan oleh Arsitektur.
1.2. RUANG
2. Pengertian Ruang
Menurut Lao Tzu
Ruang adalah ” kekosongan ” yang ada di sekitar kita maupun disekitar obtek atau benda. Ruang yang ada di dalamnya lebih hakiki ketimbang materialnya/masannya. Kekosongan yang terbingkaikan adalah sebagai transisi yang memisahkan arsitektur dengan fundamental, ada Tiga Tahapan hirarki ruang :
1. ruang adalah hasil serangkaian secara tektonik
2. ruang yang dilingkupi bentuk
3. ruang peralihan yang membentuk suatu hubungan antara dunia di dalam dan dunia di luar.
Menurut Plato
Ruang adalah sesuatu yang dapat terlihat dan terab, mejadi teraba karena memiki karakter yang jelas berbeda dengan semua unsur lainnya. Plato menginginkan : kini, segala sesuatunya harus berwadaq, kasat mata, dan teraba.
Ruang adalah sebagai tempat( topos ), tempat ( topos ) sebagai suatu dimana, atau suatu place of belonging, uang menjadi lokasi yang tepat diman setiap elemen fisik cenderung berada. Arsitoteles mengatakan : wadaq- wadaq sementara bergerak keatas dan kebawah menuju tempatnya yang tepat dan setiap hal berada di suatu tempat, yakni dalam suatu tempat. ” suatu tempat, atau ruang, tidak dapat memiliki sesuatu wadaq. ( cornelis van de ven, 1995 ).
Karakteristik dari ruang dirangkum menjadi lima butir :
1) Tempat melingkupi objek yang ada padanya
2) Tempat bukan bagian yang di linkunginya
3) Tempat dari suatu objek yang tidak lebih besar atau lebih kecil dari objek tersebut
4) Tempat dapat di tinggalkan oleh objek dan dapat di pisahkan dari objek
5) Tempat selau mengikuti objek walaupun objek terus bergerak
Menurut Josef Prijotomo
Ruang adalah bagian dari bangunan yang berupa rongga, sela yang terletak diantara dua objek dan alam terbuka yang mengelilingi dan melingkupi kita. Tidak terlihat hanya dapat dirasakan oleh pendengaran, penciuman dan perabaan.
Menurut Rudolf Amheim
Ruang adalah sesuatu yang dapat di bayangkan sebagai suatu kesatuan terbatas atau tak terbatas, seperti keadaan yang kosong yang sudah di siapkan untuk mengisi barang.
Menurut Imanuel Kant
Ruang bukanlah merupakan sesuatu yang objektif atau nyata merupakan sesuatu yang subjektif sebagai hasil pikiran manusia.
2.1. RUANG
3. Unsur – Unsur Pembentuk Ruang
Ruang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia, baik secara Psikologi, emosional, dan dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak, menghayati, berfikir dan juga menciptakan dan menyatakan bentuk dinianya.
Secara umum, ruang di bentuk oleh tiga pembentuk elemen ruangan yaitu :
1. Bidang Alas/Lantai ( The base Plane ). Oleh karena lantai Merupakan pendukung segala aktifitas kita di dalam ruangan.
2. Bidang Dinding/pembatas ( The vertical Space Devider ). Sebagai unsur perancangan bidang dinding dapat menyatu dengan bidang lantai atau sebagai bidang yang terpisah.
3. bidang atap/langit-langi ( The Overhead Plane ). Bidang atap adalah unsure pelindung utama dari suatu bangunan dan pelindung terhadap pengaruh iklim.
4. Hubungan Antara Penentu Keterangkuman Dan Kualitas Barangruang
Selain ketiga unsur diatas adapun beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi terbentuknya suatu ruang. Faktor-faktor tersebut adalah dimensi,wujud, konfigurasim permukaan, sisi bidang dan bukaan-bukaan. Suatu ruang tidak saja mempunyai bentuk secara fisik. Ruang di bentuk oleh bidang alas, bidang dinding, sbidang langit-langit. Sedangkan kualitas suatu ruang di tentukan oleh faktor-faktor tersebut diatas, yang di sebut sebagai faktor penentu keterangkuman ruang.
Hubungan antara faktor-faktor penentu keterangkuman ruangan dengan kualitas ruang yang di hasilkannya disimpulkan di dalam matriks di bawah ini :
Penentu keterangkuman
Kualitas ruangan
Dimensi
Proporsi
Skala
Wujud
konfigurasi Bentuk
Definisi
Permukaan
Sisi-sisi
Warna
Tekstur
Pola
Bukaan Tingkat ketertutupan
Cahaya
Pandangan
Sebagai contoh, hubungan antara penentu keterangkuman ruang DIMENSI dengan kualitas ruang yang dapat di hasilkannya melalui SKALA dan PROFESI adalah bila kita ingin mendapatkan efek yang wajar, megah dan mencekam ( lihat ilustrasi di bawah ini )
Dalam contoh ini dimensi adalah ukuran panjang, lebar dan tinggi ruang. Skala wajar di hasilkan dengan dimensi panjang, lebar, dan tinggi ruang yang sebanding dengan tinggi manusia normal, contohnya pada bangunan rumah tinggal. Skala megah dapat di capai dengan ukuran panjang, lebar, dan tinggi ruang yang jauh lebih besar dari ukuran manusia normal, contohnya pada bangunan-bangunan monumental seperti istana, theatre dan lain sebagainya.
Wujud adalah ciri-ciri pokok yang menentukan bentuk. Dengan membuat konfigurasi dari permukaan dan sisi, maka akan di hasilkan suatu wujud terentu pula. Semakin banyang konfigurasi dan wujud suatu banguna, akan semakin banyak ragam bentuk yang di hasilkan. Bentuk-bentuk yang terjadi dari konfigurasi tersebut akan dapat memberikan baik secara fisik maupun secara psikologis kepada pengamat dan pengguna ruang. Misalnya konfigurasi bentuk ruang segi banyak ( segi enam, segi delapan, dsb ), secara fisik akan mempengaruhi penataan perabot di dalamnya dan akan memberikan kesan kaku dan tegas terhadap ruang tersebut. Sedangkan bentuk ruang yang melenkung ( lingkaran, elipse, dsb ) akan memperjelas adanya continuitas permukaan-permukaan bentuk, kekompakan volume ruang dan kelembutan kontur.
Faktor keterangkuman ruang PERMUKAAN DAN SISI akan menentukan kualitas ruang melalui WARNA, TEKSTUR, DAN POLA. Dengan memberikan warna dan tekstur pada permukaan-permukaan bidang pembentuk ruang ( lantai, dinding, dan langit-langit ) akan memberikan kesan tertentu pada ruang yang bersangkutan kesan yang di timbulkannya lebih bersifat psikologis dari pada bersifat fisik sebagai contoh, bila suatu ruang di beri warna-warna lembut dan cerah, maka ruang menjadi terasa lebih luas dan pada gilirannya akan menyebabkan pengguna ruang menjadi lebih tenang dan nyaman. Sebaliknya jika di beri warna-warna gelap dan warna-warna panas ( merah, kuning, jingga ) akan memberikan kesan sempit atau bersemangat demikian pula dengan tekstur, baik halus maupun kasar akan memnerikan kesan berbeda pada suatu ruang atau bangunan, misalnya pada bangunan yang menggunakan beton expose, maka kesan yang di timbulkan adalah bangunan yang berat dan kokoh. Pola yang di buat pada penyusun material penutup lantai ( keramik, marmer, granit, dll ) akan meningkatkan kualitas suatu ruang dari ruang yang ’ biasa-biasa’, saja menjadi ruang yang memiliki nilai estetika yang baik. Pola juga dapat memperkuat atau menyamarkan kesan yang sudah ada. Misalnya pada dinding yang tinggi atau tidak terlalu lebat di beri pola garis-garis vertikal masa dinding tersebut akan terasa menjadi lebih tinggi, tetapi jika di beri pola garis-gari horizontal maka akan menyamarkan ketinggiannya.
Contoh lain bisa kita ambil pada hubungan antara faktor keterangkuman ruang PERMUKAAN dengan kualitas yang di hasilkan dalam penyamanan ruang. Ukuran, rupa dan letak dari bukaan atau void didalam bentuk penutupan ruang yang terangkum akan mempengaruhi nilai/kulitas dari suatu ruang dalam hal : bentuk ruang yang terjadi, pencahayaan ruang dan penerangan pada permukaan-permukaan dan bentuk-bentuknya, serta pada fokus dan orierntasi akibat dari adanya bukaan.
3.1 BENTUK
1. Pengertian
• Menurut vitivirus, tidak ada istilah bentuk. Bentuk bagi vitivurus, bila mau di kaitkan dengan fungsi/utilitas tentunya merupakan gabungan antara firmitas ( thecnic ) dengan venustas ( beauty/delight )( saliya”99).
• Obyek dalam persepsi kita memiliki wujud/ujud (sha ) ( abecrombie, 1984 : 37 )
• Wujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi bentuk ( ching, 1979 : 50 )
2. Ciri-ciri visual bentuk
ciri-ciri pokok yang mrnunjukan bentuk, dimana ciri-ciri tersebut pada kenyataannya dipengaruhi oleh keadaan bagaiman cara kita memandangnnya.
Bentuk dapat dikenali karen ia memiliki ciri-ciri visual yaitu ( ching, 1979 )
1. wujud : adalah hasil konfugurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi bentuk
2. Dimensi : dimensi suatu bentuk adalah panjang, lebar, tinggi. Demensi-demensi ini menentukan proporsinya. Adapun skalanya di tentukan oleh perbandingan ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk lain di sekelilingnya.
3. warna : corak, intensitas dan nada permukaan pada suatu bentuk. Warna adalah atribut yang paling mencolok yang membedakan suatu bentuk terhadap lingkunganya. Warna juga mempengaruhi bobot visual pada bentuk.
4. tekstur : adalah karakter permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi perasaan kita pada waktu menyentuh, juga pada saat kualitas pemantulan cahaya menimpa permukaan benda tersebut.
5. posisi : adalah letak relatif suatu bentuk terhadap suatu lingkungan atau medan visual.
6. Orientasi : adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasat, arah mata angin atau terhadap pandangan seseotang yang melihatnya.
7. inersia visual : adalah derajad konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia suatu bentuk tergantung pada geometri dan orientasi relatifnya terhadap bidang dasar dan garis pandangan kita.
Dengan penghayatan terhadap wujud kita bisa mendapatkan kepuasan. Wujud dapat menawan perhatian kita, mengundang keingintahuan memberikan sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam berbagai cara. Ada wujud yang memuat pesan khusus, ada yang membuat kita langsung mengerti bahkan ada yang tidak sama sekali dengan atau tanpa penjelasan wujud tidak dapat di pertentangkan. ( Abrecombie 1984 ).
Sebagai contoh dengan dimensi dan ukurannya, piramid adalah suatu wujud yang mempunyai suatu kekuatan. Tentunya efektifitasnya di perkaya oleh pengulangan sejarah dan oleh kekayaan akan asosiasi-asosiasinya yang terakumulasi ( terkumpul ). Bagi masyarakat mesir, yang mengenalnya sebagai transfotmasi ideal dan agung dari gundukan makam biasa, yang mempercayai sebagai jaminan keabadian pharaoh dan yang melihat lapisan atapnya yang bekilat memantulkan cahaya langsung yang pertama dari matahari terbit, sebagai imaji kedewaan dan ketuhanan bagi mereka jelas, piramid memiliki arti yang tidak bisa kita dapatkan lagi saat ini.
Olblesik adalah salah satu bentuk yang memiliki daya tarik. Oblesik hampit selalu menarik perhatian. Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa oblesik melambangkan’ lingga’. Tetapi akan berarti asosiasi ini dilihat sebagai sumber daya teriknya. Sumber tersebut mungkin sedikit lebih berkaitan dengan sex dari pada dengan sebuah isyarat melawan gravitasi, usaha melawan inertia.
2. Ekspresi Bentuk
ekspresi bentuk adalah apa yang kita lihat menurut pengaruh atau pengalaman sebelumnya. ( smithies, 1984 ). Oleh karen itu setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda, maka tanggapan terhadap ekspresi yang dimunculkan oleh subyek juga akan berbeda-beda.
Setiap kerangka arsitektural senantiasa mengandung ekspresi sebagai sebuah prinsip.
Ekpresi dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek yakni
Fungsi. Fungsi dapat melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah lumbung padi dengan menitik beratkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuk lumbung padi yang dapat menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan sebagainya.
Struktur. Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan bentuk yang eksptesif pula.
Budaya. Misalnya pada bangunan tradisional. Ekspresi yang di munculkan merupakan hasil tampilan budaya.
3. Teori Gestalt tentang Ekspresi
para psikologi Gestalt menduga bahwa terdapat sebuah pengalaman langsung dari kualitas ekspresi dalam persepsi terhadap garis-garis, bidang-bidang, volume ataupun massa. Mereka merumuskan bahwa pengalaman-pengalaman ini bukan hasil dari asosiasi intelektual melainkan hasil dari sebuah gaung antara proses neurologis (syaraf) dan pola-pola lingkungan. Jadi bangunan di katakan hidup, tenang, atau berat bukan karena asosiasi antara pola-pola yang ada sekarang dengan rujukan tetapi karena proses biologis dalam otak kita – konsep Isomorphism Gestalt (Lang, 1987).
Menurut interpretasi psikologi dari Teor Gestalt tentang proses persepsi visual, menyatakan bahwa ’garis’(line) dan ’bentuk’(form) dari bangunan mengkomunikasikan makna-makna secara langsung melalui garis itu sendiri atau bidang (Lang, 1987). Contoh-contoh dari penerapan teori ini ada pada Crisler Building, ekspresi: menjulang tinggi (soaring), Sydney Opera house, ekspresi: gelembung (billowing), menunjukan ekspresi: statis. Ketiganya merupakan kualitas ekspresif dari konfigurasi-konfigurasi spesifik. Interpretasi alternatif dari teori Gestalt adalah bahwa ekspresi-ekspresi ini adalah hasil dari asosiasi-asosiasi yang di pelajari (Lang, 1987).
4.1 KETERKAITAN FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI
Fungsi dapat dikategorikan sebagai penentu atau panduan manuju bentuk. Fungsi menunjukan kearah mana bentuk harus ditemukan. Fungsi dan bentuk memang diperlukan untuk menjelaskan arsitektur, tapi belum memadai (necessary but not efficient) (Saliya, 1999).
Fungsi tidak mutlak menentukan bentuk. Konsep form follows function banyak dibantah oleh para modernis. Sebagai contoh satu fungsi dapat meghasilkan bermacam-macam bentuk. Bentuk adalah bagian integral dari kadar spiritual bagi pernyataan bangunan. Bentuk harus sebagai media bagi komunikasi (ruang). Yaitu, akan mungkin melalui bentuk yang sesuai untuk memancarkan informasi tertentu (Sohirmbeck, 1988).
Bentuk dalam arsitektur meliputi permukaan luar dan ruang dalam. Pada saat yang sama, bentuk maupun ruang mengakomodasi fungsi-fungsi (baik fungsi fisik maupun non fisik). Fungsi-fungsi tersebut dapat dikomunikasikan kepada pengamat melalui bentuk. Kaitan-kaitan tersebut dapat menghasilkan ekspresi bentuk. Dalam menyatakan, keterkaitan fungsi, ruang dan bentuk dapat menghadirkan berbagai macam ekspresi. Penagkapan ekspresi bentuk bisa sama ataupun berbeda pada setiap pengamat, tergantung dari pengalaman dan latar belakang pengamat. Menurut para moderenis, fungsi dapat di kategorikan sebagai penentu bentuk atau penduan menuju bentuk. Fungsi menunjukan kearah mana bentuk harus di tentukan.
( yuswadi saliya, 1999 ).
Hal ini mengacu kepada slogan form follows function ( Louis Sullivan )
Jika kita berbicara tentang arsitektur, maka kita tidak hanya bicara tentang fungsi dan bentuk saja. Masih ada unsur lain yang juga terkait erat dengan arsitektur, yang merupakan konsekuensi logisdari adanya fungsi. Karena fungsi merupakan gambaran dari kegiatan, dimana kegiatan tersebut membutuhkan fungsi, tentunya akan berlanjut dengan pembahasan tentang ruang. Sedangkan bentuk yang menurut sullivan merupakan akibat dari pewadahan fungsi, dapat memberikan ekspresi tertentu. Jadi pembahasan fungsi tidak dapat di pisahkan dari pembahasan tentang ruang, bentuk dan ekspresi bentuk yang di hasilkan.
Kaitannya dengan arsitektur adalah bahwa arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai wadah kegiatan mansusia. Bagaimana pun juga unsur-unsur fungsi, ruang, bentuk dan ekspresi akan menentukan bagaiama arsitektur dapat meninggikan nilai suatu karya, memperoleh tanggapan serta mengungkapkan suatu makna. Oleh karena penyajian ini adalah sebagai sarana untuk memecakan suatu masalah sebagai tanggapan atas kondisi-kondisi lingkupnya secara arsitektural yang saling berkaitan.
1.1. FUNGSI
A. Pengertian fungsi
Dari segi pengeriatan dapat di bagi menjadi :
Ilustration
concept
Ilustrasi 1
TR
1. Pengertian Umum Bagi Para Ahli Bahasa ( Linguist ) Fungsi Adalah :
pendekatan pada studi bahasa yang berkenan dengan fungsi yang di tunjukan oleh bahasa, terutama dalam hal kejadian ( informasi yang berhubungan ), ekpresi ( mengindikasikan suasana hati ), dan pergaruh keahlian.
2. Pengertian Umum Bagi Para sosiologis ( Linguist ) Fungsi Adalah :
Teori tentang hubungan bagian-bagian dalam masyarakat pada keseluruhan dan satu dengan yang lai. Pendekatannya terkemukan dalam pekerjaan sosiolog pada abad, khususnya mereka yang melihat masyarakat sebagai organisme.
3. Pengertian Arsitekturalnya adalah :
Suatu prinsip Arsitekturalnya dimana bentuk suatu bangunan harus di peroleh dari fungsi yang harus di penuhinya; aspek skematis dan teknis dari moderenisasi arsitektural ( rasionalisme ), yang pendirian teoritisnya yang lebih luas juga membentuk pertanyaan simbolik, filsafat, politik, sosial ekonomi.
Fungsi traditional understanding ; utility, fitnes for purpose ( ketepatan guna ),”task” ( tugas/ guna ) yang harus di penuhi oleh suatu bangunan. Efek atau pengaruhnya terhadap pengguna atau pengamat.commodity bagi teori vitu virus tentang ” commodity ”, firmness and delight”.
Firmness = technics ” , delight = form ”. Ketiganya adalah dimensi yang tidak telepaskan dari sebuah karya/ pekerjaan arsitektur, dan fungsi sendiri dapat di bicarakannya dalam tujuan-tujuan analisis dengan pengertian bahwa dalam kenyataannya fungsi tidak bisa ” ada ” ( exist ) tanpa bentuk dan material konstruksi dan teknik.
B. Multifungsionalitas Arsitektur
Dalam kegiatan perancangan kita tidak pernah lepas dari instilah ” Fungsi ”. Sayangnya istilah ini seringkali sangat di batasi pada pengertian sebagai aktifitas didalam bangunan maupun diluat bangunan. Tetapi pada prinsipnya pengertian fungsi sangat luas.
Berhubungan dengan hal ini, maka kita akan berhadapan dengan sebuah obyek yang melaksanakan satu atau beberapa atau bahkan seluruh fungsi. Hal inilah yang mendorong arsitektur untuk menjalankan berbagai fungsi, yang dikatakan Multifungsionalitas Arsitektur ( josef Prijotomo, 1998 ).
Beberapa tokoh yang berkecimpung dalam bidang arsitektur maupun diluar melontarkan beberapa fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitektur :
Geoffrey Broadhint
Menurutnya ada enam fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitektur enam fungsi tersebut adalah :
1. Environmental Filter ( =Modofier of the phsycal climate ). Bangunan bias mengontrol iklin. Bangunan berfungsi sebagai penyaring terhadap iklim di luar
(filter). Bangunan dapat membuat kita merasa aman dan nyaman untuk melaksanakan aktifitas kita. Kita dapat menentukan ruangan mana yang harus dekat dan mana yang harus di jauhkan.
2. Container of actifities. Bangunan sebagai wadah kegiatan yang menempatkannya pada tempat tertentu
3. Capital invesment (=changer of land value ). Bangunan dapat memberikan nilai lebih pada tapak. Dapat menjadi sumber investasi yang baik.
4. symbolic function ( = implication cultural ). Dalam pengertian ini bangunan dapat memberikan nilai Sombolik, khususnya keagamaan dan budaya.
5. Behavior modifier. Bangunan dapat mengubah kebiasaan dan perilaku, sesuai dengan suasana ruang.
6. Aesthetic function (= Pursuit of delight ). Bangunan akan menyenangkan jika tampak cantik, sesuai dengan fashionable saat ini.
Geoffrey Broadhint, memahami fungsi sebagai sesuatu yang di pancarkan dan di informasikan melalui panca indrkita.
Christian Notberg-Scuhltz
Memunculkan empat fungsi yang dapat dijalankan oleh arsitektur. Dalam menjawab : apa tugas bangunan :
1. phsycal Control. Peranan phsycal Control dalam fungsi bangunan adalah :
untuk mengontrol iklim.
*. Udara, kelembaban, temperetur, angin, curah hujan dan lain-lain
*. Hal-hal lain seperti, asap, serangga, hewan, manusia, dan radioaktif.
Secara umum physcal control adalah berupa hubungan bangunan terhadap lingkungan. Dapat mengontrol lingkungan sesuai dengan aktifitas yang dilakukan di dalam bangunan.
2. functional frame. Pada prinsipnya manusia selalu melakukan aktifitas oleh kerena itu di perlukan wadah Arsiterktural dalam menentukan fungsi dari tiap-tiap wadah yang di tentukan. Manusia membutuhkan ruangan untuk melaksanakan kegiatannya, fungsi ruangan dapat berubah apabila terjadi perubahan gaya hidup yang di dasari atas kebutuhan. Tak peduli jika ruangan dalam bentuk apapun ( bujur sangkar, lingkaran, elipse, dll ) yang terpenting fungsi dapat terpenuhi.
3. Social Milieu. Bisa menjadi ekxpresi statis, peranan, kelompok, institusi dan sekolompok bangunan yang dapat merepresentasikan system sosial sebagai suatu kesatuan. Contoh : istana raja dibuat lebih besar dari bangunan lain dengan tujuan, menunjukan status sosial.
Dari sinilah akan lahir ekxpresi bentuk, baik yang terjadi di dalam maupun di luat harus dapat memberikan suatu informasi. Tentang apa dan fungsi dari bangunan tersebut.
Bangunan dan ligkungan memberikan manusia tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan umum dan khusus.
4. Cultural symbolization. Arsitektur adalah obyek budaya dan merupakan hasil karya mansusia yang melayani aktifitas manusia secara umum. Kita telah sepakat bahwa seni menerangkan nilai budaya dan sains menerangkan fakta-fakta, dan seni adalah nilai-nilai budaya yang harus di masyarakatkan.
Larry R. Ligo
Ligo memunculkan lima Fungsi yang dapat di jalankan oleh arsitekrur untuk menjawab fungsi sebagai konsep. Kelima fungsi bangunan menurut liggo ( dari concepts of function of the twentieth century Atchitecture ) adalah :
1. Structural Articulation ( artikulasi structural ) menunjuk pada pengupasan dalam design, dari material struktur dan metode sebuah bangunan ( misalnya “ fungsi “ material dan metode maupun pada artikulasi exterior bangunan dengan variasi kegiatan yang terkandung di dalamnya.
2. Physcal function. ( fungsi fisik ). Meliputi control dari lingkungan dan akomodasi bangunan terhadap aspek-aspek fisik dari tujuan yang di inginkan, aspek-aspek seperti pola jalan dan fleksibilitas dari pengaturan ruang.
3. Physcal function. ( fungsi Psiokoligi ). Mengacu kepada “feelings”
( perasaan atau rasa ) dimana bangunan-bangunan itu berbaur dengan pengamat- pengamatnya, penghuni/pemakai dan pengkritikannya, termasuk penyakit-penyakit psikologis seperti vertigo, clausphobia, kebingungan arah (direction), kenyamanan fisik atau kurangnya rasa dan emosi yang spesifik/khas.
4. Social function. ( fungsi Sosial ). Mengacu kepada kongkritisasi dari institusi social dan karakteristik yang bernilai budaya atau masa tertentu
5. Cultural/existential function. ( fungsi budaya/keberadaan ). Mengacu kepada kongritisasi dati nilai-nilai universal atau struktur subconcius dari spatial dan orientasi psikologi yang berhubungan lebih kepada esensi kemanusiaan dari pada hidup manusia dalam suatu waktu dan tempat tertentu.
Larry R. ligo memahami fungsi sebagai tugas/pekerjaan ataupun efek-efek yang dapat di timbulkan oleh Arsitektur.
1.2. RUANG
2. Pengertian Ruang
Menurut Lao Tzu
Ruang adalah ” kekosongan ” yang ada di sekitar kita maupun disekitar obtek atau benda. Ruang yang ada di dalamnya lebih hakiki ketimbang materialnya/masannya. Kekosongan yang terbingkaikan adalah sebagai transisi yang memisahkan arsitektur dengan fundamental, ada Tiga Tahapan hirarki ruang :
1. ruang adalah hasil serangkaian secara tektonik
2. ruang yang dilingkupi bentuk
3. ruang peralihan yang membentuk suatu hubungan antara dunia di dalam dan dunia di luar.
Menurut Plato
Ruang adalah sesuatu yang dapat terlihat dan terab, mejadi teraba karena memiki karakter yang jelas berbeda dengan semua unsur lainnya. Plato menginginkan : kini, segala sesuatunya harus berwadaq, kasat mata, dan teraba.
Ruang adalah sebagai tempat( topos ), tempat ( topos ) sebagai suatu dimana, atau suatu place of belonging, uang menjadi lokasi yang tepat diman setiap elemen fisik cenderung berada. Arsitoteles mengatakan : wadaq- wadaq sementara bergerak keatas dan kebawah menuju tempatnya yang tepat dan setiap hal berada di suatu tempat, yakni dalam suatu tempat. ” suatu tempat, atau ruang, tidak dapat memiliki sesuatu wadaq. ( cornelis van de ven, 1995 ).
Karakteristik dari ruang dirangkum menjadi lima butir :
1) Tempat melingkupi objek yang ada padanya
2) Tempat bukan bagian yang di linkunginya
3) Tempat dari suatu objek yang tidak lebih besar atau lebih kecil dari objek tersebut
4) Tempat dapat di tinggalkan oleh objek dan dapat di pisahkan dari objek
5) Tempat selau mengikuti objek walaupun objek terus bergerak
Menurut Josef Prijotomo
Ruang adalah bagian dari bangunan yang berupa rongga, sela yang terletak diantara dua objek dan alam terbuka yang mengelilingi dan melingkupi kita. Tidak terlihat hanya dapat dirasakan oleh pendengaran, penciuman dan perabaan.
Menurut Rudolf Amheim
Ruang adalah sesuatu yang dapat di bayangkan sebagai suatu kesatuan terbatas atau tak terbatas, seperti keadaan yang kosong yang sudah di siapkan untuk mengisi barang.
Menurut Imanuel Kant
Ruang bukanlah merupakan sesuatu yang objektif atau nyata merupakan sesuatu yang subjektif sebagai hasil pikiran manusia.
2.1. RUANG
3. Unsur – Unsur Pembentuk Ruang
Ruang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia, baik secara Psikologi, emosional, dan dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak, menghayati, berfikir dan juga menciptakan dan menyatakan bentuk dinianya.
Secara umum, ruang di bentuk oleh tiga pembentuk elemen ruangan yaitu :
1. Bidang Alas/Lantai ( The base Plane ). Oleh karena lantai Merupakan pendukung segala aktifitas kita di dalam ruangan.
2. Bidang Dinding/pembatas ( The vertical Space Devider ). Sebagai unsur perancangan bidang dinding dapat menyatu dengan bidang lantai atau sebagai bidang yang terpisah.
3. bidang atap/langit-langi ( The Overhead Plane ). Bidang atap adalah unsure pelindung utama dari suatu bangunan dan pelindung terhadap pengaruh iklim.
4. Hubungan Antara Penentu Keterangkuman Dan Kualitas Barangruang
Selain ketiga unsur diatas adapun beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi terbentuknya suatu ruang. Faktor-faktor tersebut adalah dimensi,wujud, konfigurasim permukaan, sisi bidang dan bukaan-bukaan. Suatu ruang tidak saja mempunyai bentuk secara fisik. Ruang di bentuk oleh bidang alas, bidang dinding, sbidang langit-langit. Sedangkan kualitas suatu ruang di tentukan oleh faktor-faktor tersebut diatas, yang di sebut sebagai faktor penentu keterangkuman ruang.
Hubungan antara faktor-faktor penentu keterangkuman ruangan dengan kualitas ruang yang di hasilkannya disimpulkan di dalam matriks di bawah ini :
Penentu keterangkuman
Kualitas ruangan
Dimensi
Proporsi
Skala
Wujud
konfigurasi Bentuk
Definisi
Permukaan
Sisi-sisi
Warna
Tekstur
Pola
Bukaan Tingkat ketertutupan
Cahaya
Pandangan
Sebagai contoh, hubungan antara penentu keterangkuman ruang DIMENSI dengan kualitas ruang yang dapat di hasilkannya melalui SKALA dan PROFESI adalah bila kita ingin mendapatkan efek yang wajar, megah dan mencekam ( lihat ilustrasi di bawah ini )
Dalam contoh ini dimensi adalah ukuran panjang, lebar dan tinggi ruang. Skala wajar di hasilkan dengan dimensi panjang, lebar, dan tinggi ruang yang sebanding dengan tinggi manusia normal, contohnya pada bangunan rumah tinggal. Skala megah dapat di capai dengan ukuran panjang, lebar, dan tinggi ruang yang jauh lebih besar dari ukuran manusia normal, contohnya pada bangunan-bangunan monumental seperti istana, theatre dan lain sebagainya.
Wujud adalah ciri-ciri pokok yang menentukan bentuk. Dengan membuat konfigurasi dari permukaan dan sisi, maka akan di hasilkan suatu wujud terentu pula. Semakin banyang konfigurasi dan wujud suatu banguna, akan semakin banyak ragam bentuk yang di hasilkan. Bentuk-bentuk yang terjadi dari konfigurasi tersebut akan dapat memberikan baik secara fisik maupun secara psikologis kepada pengamat dan pengguna ruang. Misalnya konfigurasi bentuk ruang segi banyak ( segi enam, segi delapan, dsb ), secara fisik akan mempengaruhi penataan perabot di dalamnya dan akan memberikan kesan kaku dan tegas terhadap ruang tersebut. Sedangkan bentuk ruang yang melenkung ( lingkaran, elipse, dsb ) akan memperjelas adanya continuitas permukaan-permukaan bentuk, kekompakan volume ruang dan kelembutan kontur.
Faktor keterangkuman ruang PERMUKAAN DAN SISI akan menentukan kualitas ruang melalui WARNA, TEKSTUR, DAN POLA. Dengan memberikan warna dan tekstur pada permukaan-permukaan bidang pembentuk ruang ( lantai, dinding, dan langit-langit ) akan memberikan kesan tertentu pada ruang yang bersangkutan kesan yang di timbulkannya lebih bersifat psikologis dari pada bersifat fisik sebagai contoh, bila suatu ruang di beri warna-warna lembut dan cerah, maka ruang menjadi terasa lebih luas dan pada gilirannya akan menyebabkan pengguna ruang menjadi lebih tenang dan nyaman. Sebaliknya jika di beri warna-warna gelap dan warna-warna panas ( merah, kuning, jingga ) akan memberikan kesan sempit atau bersemangat demikian pula dengan tekstur, baik halus maupun kasar akan memnerikan kesan berbeda pada suatu ruang atau bangunan, misalnya pada bangunan yang menggunakan beton expose, maka kesan yang di timbulkan adalah bangunan yang berat dan kokoh. Pola yang di buat pada penyusun material penutup lantai ( keramik, marmer, granit, dll ) akan meningkatkan kualitas suatu ruang dari ruang yang ’ biasa-biasa’, saja menjadi ruang yang memiliki nilai estetika yang baik. Pola juga dapat memperkuat atau menyamarkan kesan yang sudah ada. Misalnya pada dinding yang tinggi atau tidak terlalu lebat di beri pola garis-garis vertikal masa dinding tersebut akan terasa menjadi lebih tinggi, tetapi jika di beri pola garis-gari horizontal maka akan menyamarkan ketinggiannya.
Contoh lain bisa kita ambil pada hubungan antara faktor keterangkuman ruang PERMUKAAN dengan kualitas yang di hasilkan dalam penyamanan ruang. Ukuran, rupa dan letak dari bukaan atau void didalam bentuk penutupan ruang yang terangkum akan mempengaruhi nilai/kulitas dari suatu ruang dalam hal : bentuk ruang yang terjadi, pencahayaan ruang dan penerangan pada permukaan-permukaan dan bentuk-bentuknya, serta pada fokus dan orierntasi akibat dari adanya bukaan.
3.1 BENTUK
1. Pengertian
• Menurut vitivirus, tidak ada istilah bentuk. Bentuk bagi vitivurus, bila mau di kaitkan dengan fungsi/utilitas tentunya merupakan gabungan antara firmitas ( thecnic ) dengan venustas ( beauty/delight )( saliya”99).
• Obyek dalam persepsi kita memiliki wujud/ujud (sha ) ( abecrombie, 1984 : 37 )
• Wujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi bentuk ( ching, 1979 : 50 )
2. Ciri-ciri visual bentuk
ciri-ciri pokok yang mrnunjukan bentuk, dimana ciri-ciri tersebut pada kenyataannya dipengaruhi oleh keadaan bagaiman cara kita memandangnnya.
Bentuk dapat dikenali karen ia memiliki ciri-ciri visual yaitu ( ching, 1979 )
1. wujud : adalah hasil konfugurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi bentuk
2. Dimensi : dimensi suatu bentuk adalah panjang, lebar, tinggi. Demensi-demensi ini menentukan proporsinya. Adapun skalanya di tentukan oleh perbandingan ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk lain di sekelilingnya.
3. warna : corak, intensitas dan nada permukaan pada suatu bentuk. Warna adalah atribut yang paling mencolok yang membedakan suatu bentuk terhadap lingkunganya. Warna juga mempengaruhi bobot visual pada bentuk.
4. tekstur : adalah karakter permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi perasaan kita pada waktu menyentuh, juga pada saat kualitas pemantulan cahaya menimpa permukaan benda tersebut.
5. posisi : adalah letak relatif suatu bentuk terhadap suatu lingkungan atau medan visual.
6. Orientasi : adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasat, arah mata angin atau terhadap pandangan seseotang yang melihatnya.
7. inersia visual : adalah derajad konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia suatu bentuk tergantung pada geometri dan orientasi relatifnya terhadap bidang dasar dan garis pandangan kita.
Dengan penghayatan terhadap wujud kita bisa mendapatkan kepuasan. Wujud dapat menawan perhatian kita, mengundang keingintahuan memberikan sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam berbagai cara. Ada wujud yang memuat pesan khusus, ada yang membuat kita langsung mengerti bahkan ada yang tidak sama sekali dengan atau tanpa penjelasan wujud tidak dapat di pertentangkan. ( Abrecombie 1984 ).
Sebagai contoh dengan dimensi dan ukurannya, piramid adalah suatu wujud yang mempunyai suatu kekuatan. Tentunya efektifitasnya di perkaya oleh pengulangan sejarah dan oleh kekayaan akan asosiasi-asosiasinya yang terakumulasi ( terkumpul ). Bagi masyarakat mesir, yang mengenalnya sebagai transfotmasi ideal dan agung dari gundukan makam biasa, yang mempercayai sebagai jaminan keabadian pharaoh dan yang melihat lapisan atapnya yang bekilat memantulkan cahaya langsung yang pertama dari matahari terbit, sebagai imaji kedewaan dan ketuhanan bagi mereka jelas, piramid memiliki arti yang tidak bisa kita dapatkan lagi saat ini.
Olblesik adalah salah satu bentuk yang memiliki daya tarik. Oblesik hampit selalu menarik perhatian. Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa oblesik melambangkan’ lingga’. Tetapi akan berarti asosiasi ini dilihat sebagai sumber daya teriknya. Sumber tersebut mungkin sedikit lebih berkaitan dengan sex dari pada dengan sebuah isyarat melawan gravitasi, usaha melawan inertia.
2. Ekspresi Bentuk
ekspresi bentuk adalah apa yang kita lihat menurut pengaruh atau pengalaman sebelumnya. ( smithies, 1984 ). Oleh karen itu setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda, maka tanggapan terhadap ekspresi yang dimunculkan oleh subyek juga akan berbeda-beda.
Setiap kerangka arsitektural senantiasa mengandung ekspresi sebagai sebuah prinsip.
Ekpresi dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek yakni
Fungsi. Fungsi dapat melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah lumbung padi dengan menitik beratkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuk lumbung padi yang dapat menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan sebagainya.
Struktur. Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan bentuk yang eksptesif pula.
Budaya. Misalnya pada bangunan tradisional. Ekspresi yang di munculkan merupakan hasil tampilan budaya.
3. Teori Gestalt tentang Ekspresi
para psikologi Gestalt menduga bahwa terdapat sebuah pengalaman langsung dari kualitas ekspresi dalam persepsi terhadap garis-garis, bidang-bidang, volume ataupun massa. Mereka merumuskan bahwa pengalaman-pengalaman ini bukan hasil dari asosiasi intelektual melainkan hasil dari sebuah gaung antara proses neurologis (syaraf) dan pola-pola lingkungan. Jadi bangunan di katakan hidup, tenang, atau berat bukan karena asosiasi antara pola-pola yang ada sekarang dengan rujukan tetapi karena proses biologis dalam otak kita – konsep Isomorphism Gestalt (Lang, 1987).
Menurut interpretasi psikologi dari Teor Gestalt tentang proses persepsi visual, menyatakan bahwa ’garis’(line) dan ’bentuk’(form) dari bangunan mengkomunikasikan makna-makna secara langsung melalui garis itu sendiri atau bidang (Lang, 1987). Contoh-contoh dari penerapan teori ini ada pada Crisler Building, ekspresi: menjulang tinggi (soaring), Sydney Opera house, ekspresi: gelembung (billowing), menunjukan ekspresi: statis. Ketiganya merupakan kualitas ekspresif dari konfigurasi-konfigurasi spesifik. Interpretasi alternatif dari teori Gestalt adalah bahwa ekspresi-ekspresi ini adalah hasil dari asosiasi-asosiasi yang di pelajari (Lang, 1987).
4.1 KETERKAITAN FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI
Fungsi dapat dikategorikan sebagai penentu atau panduan manuju bentuk. Fungsi menunjukan kearah mana bentuk harus ditemukan. Fungsi dan bentuk memang diperlukan untuk menjelaskan arsitektur, tapi belum memadai (necessary but not efficient) (Saliya, 1999).
Fungsi tidak mutlak menentukan bentuk. Konsep form follows function banyak dibantah oleh para modernis. Sebagai contoh satu fungsi dapat meghasilkan bermacam-macam bentuk. Bentuk adalah bagian integral dari kadar spiritual bagi pernyataan bangunan. Bentuk harus sebagai media bagi komunikasi (ruang). Yaitu, akan mungkin melalui bentuk yang sesuai untuk memancarkan informasi tertentu (Sohirmbeck, 1988).
Bentuk dalam arsitektur meliputi permukaan luar dan ruang dalam. Pada saat yang sama, bentuk maupun ruang mengakomodasi fungsi-fungsi (baik fungsi fisik maupun non fisik). Fungsi-fungsi tersebut dapat dikomunikasikan kepada pengamat melalui bentuk. Kaitan-kaitan tersebut dapat menghasilkan ekspresi bentuk. Dalam menyatakan, keterkaitan fungsi, ruang dan bentuk dapat menghadirkan berbagai macam ekspresi. Penagkapan ekspresi bentuk bisa sama ataupun berbeda pada setiap pengamat, tergantung dari pengalaman dan latar belakang pengamat.
Reference
https://othisarch07.wordpress.com/2010/02/05/fungsi-ruangbentuk-dan-ekspresi-dalam-arsitektur/
Software yang Sering Digunakan dalam Teknik Arsitektur
Ada beberapa Software yang sering digunakan dalam Dunia konstruksi di Dunia termasuk di Indonesia. Dan berikut ini adalah 12 Jenis Software yang sering digunakan dalam Dunia Arsitektur dan Konstruksi di Indonesia.
1. AutoCad
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/06/AutoCAD_Interface.png/330px-AutoCAD_Interface.png AutoCAD adalah perangkat lunak komputer CAD untuk menggambar 2 dimensi dan 3 dimensi yang dikembangkan oleh Autodesk. Keluarga produk AutoCAD, secara keseluruhan, adalah software CAD yang paling banyak digunakan di dunia. AutoCAD digunakan oleh insinyur sipil, land developers,arsitek, insinyur mesin, desainer interior dan lain-lain.
Format data asli AutoCAD, DWG, dan yang lebih tidak populer, Format data yang bisa dipertukarkan (interchange file format) DXF, secara de facto menjadi standard data CAD. Akhir-akhir ini AutoCAD sudah mendukung DWF, sebuah format yang diterbitkan dan dipromosikan oleh Autodesk untuk mempublikasikan data CAD.
AutoCAD saat ini hanya berjalan disistem operasi Microsoft. Versi untuk Unix dan Macintosh sempat dikeluarkan tahun 1980-an dan 1990-an, tetapi kemudian tidak dilanjutkan. AutoCAD masih bisa berjalan di emulator seperti Virtual PC atau Wine.
AutoCAD dan AutoCAD LT tersedia dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Jepang, Korea, Tionghoa Sederhana, Tionghoa Tradisional, Rusia, Ceko, Polandia, Hongaria, Brasil, Portugis, Denmark, Belanda, Swedia, Finlandia, Norwegia dan Vietnam.
2. 3d Studio Max
http://cgcookie.com/max/files/2013/09/Modeling_Big.jpg
3d Studio max atau sering disebut dengan 3dmax, merupakan produk lain dari Autodesk yang banyak digunakan di Seluruh Dunia. Produk ini sering digunakan sebagai software animasi baik animasi Aristektur maupun grafis seperti animasi film. Software ini Sanfat Familiar di Indonesia dan penggunanya pun relatif banyak mulai dari profesional Arsitek hinggadesainer Grafis.
Efek animasi dalam software ini relatif banyak sehingga mempermudah pembuatan animasi baik animasi foto maupun animasi bergerak seperti Video promosi dalam bidang properti, film dan periklanan.
3. 3d Studio Maya
3d Studio maya hampir sama dengan 3d studio max, yang membedakan hanyalah fasilitas di dalamnya, jika 3d max masih lebih kearah Arsitektural Desain, tapi 3d Studio Max lebih banyak di gunakan sebagai software animasi. untuk fasilitas dalam 3d studio maya tidak sebanyak dalam 3d max, Namun dia lebih unggul dalam hal animasi yang memiliki banyak vertex seperti membuat model tubuh dan lain-lain.
4. Revit Architecture
Salah satu produk lainnya dari Autodesk adalah Revit, Revitterdiri dari beberapa jenis diantaranya Revit Architecture danRevit Structure. Produk Autodesk yang satu ini dapat dikatakan sebagai produk gabungan dari AutoCad dan 3dMax, karena Produk ini bisa membuat tampilan 2D dan 3D secara bersamaan. dengan fasilitas gabungan tersebut, maka Revit memiliki tingkat kecepatan dalam kinerja lebih tinggi dari yang lainnya, Namun untuk masalah Detailling tergantung dari pemakai. untuk rendering dalam revit tidak terlalu bagus, sehigga kebanyakan dari mereka (pengguna) selalu meng-eksport hasil produk 3D revit tersebut kedalam 3d max untuk menghasilkan produk animasi yang baik.
5. ArchiCad
Produk ini memiliki kesamaan sistem dengan revit. namun untuk masalah rendering sistem masih jauh berbeda dengan revit. Produk unggulan Graphisoft ini banyak digunakan dibeberapa Konsultan di Indonesia, karena dari segi dimensional telah sesuai dengan standar dimensi di Indonesia, sehingga mereka lebih memilih produk ini dibandingkan revit yang belum memuliki fasilitas dimensional dalam Negeri.
6. Google SketchUp
Google pun tak kalah produktif dari beberapa perusahaan di atas, Produk yang satu ini menjadi primadona baru dalam dunia Arsitektur di dunia, karena kemudahan penggunaan dan fasilitas yang diberikan sangat banyak, dari mulai akses langsung kegoogle maps hingga kita bisa mengambil foto view lokasi langsung secara online dengan menggunakan satelite, Namun fasilitas tersebut masih terbatas di wilayah eropa. Google SkethUp memiliki fasilitas Gudang Gambar 3d atau sering disebut 3d Warehouse yang menyediakan beberapa Library desain 3D yang berasal dari pengguna Google sketchUp lain di seluruh dunia dan dapat di download secara langsung pada fasilitas component google.
7. Chief Architect
Produk ini memang tidak begitu terkenal di Indonesia, Namun dari segi kemudahan dalam penggunaannya bisa di katakan relatif mudah, Namun hasil rendering masih kurang baik dibandingkan produk autodesk. keunggulan produk ini adalah dalam penggunaannya yang lebih simple dan tidak banyak perintah yang harus dimasukan, dan fasilitas librarynya lumayan banyak.
8. Artlantis Studio
Artlantis Studio, program 3D architectural designini hampir menyerupai google sketchUp, Namun lebih unggul dari masalah rendering environtment, JikaSketchUp harus menggunakan plugins rendering vray untuk menghasilkan rendering yang baik. tapi untuk produk ini tidak harus menggunakan plugins, karena Artlantis sendiri merupakan software modeling sekaligus rendering.
9. Rhinoceros
Produk Modelling 3D ini sering digunakan oleh perusahaanArsitektur terkenal di Dunia terutama untuk membuat desainbangunan yang unik-unik, seperti Bangunan karya Zaha Hadid. Kabarnya produk ini selalu aktif digunakan pada perusahaan Konsultan Zaha Hadid sebagai software modelling 3D.
10.Tekla
Software Tekla merupakan revolusi baru dalam bidang rekayasa struktur yang memiliki beberapa keunggulan dibanding program aplikasi lainnya, Keunggulan Software Tekla antara lain yaitu terintegrasinya kegiatan pemodelan, analisis dan desain struktur dengan detailing yang lebih detail, bill quantity, sequence pekerjaan sampai dengan kegiatan schedullling bahkan dapat digabungkan dengan software lainnya seperti perencanaan produksi, sumber daya, sistem otomatisasi mesin, dsb. Sehingga kegiatan AEC (architect,engineering, construction) terintegrasi dalam satu pemodelan yang dapat diakses secara real time.
Dalam aplikasinya tentunya hal tersebut sangat menghemat biaya, waktu dan sumber daya manusia. Proyek konstruksi fantastis menara Burj Dubai, yang memiliki ketinggian hampir satu kilometer (900 m) merupakan menara tertinggi didunia. Penggunaan aplikasi Software Tekla pada proyek tersebut telah membuktikan kemampuannya dalam hal pemenuhan kebutuhan tidak hanya pada kegiatan Planning and Design akan tetapi juga pada kegiatan construction, erection, project management serta kegiatan operational and maintenance.
11. AsileFX LWCAD
AsileFX LWCAD adalah aplikasi yang digunakan untuk mendalami bidang arsitektur. AsileFX LWCAD mempunyai toolset untuk membangun apartemen dan gedung-gedung, bangunan mulai dari lantai dasar sampai dengan ruangan-ruangan di dalamnya dengan mudah. Intinya adalah program software ini amat dibutuhkan oleh arsitek yang ingin belajar arsitektur melalui program arsitektur 3Ddengan tool-tool yang sangat lengkap.
Selain itu, AsileFX LWCAD dilengkapi dengan pengajaran-pengajaran kelas dunia dalam satu paket. Jadi dengan software dan tutorial tersebut kita tidak menjadi buta dan diberikan hanya teori, tapi ada studi bagus dari ahli arsitektur kelas dunia yang dibawakan oleh Nicholas Pellegrino. Kamu dapat merancang dari kamar ke kamar, ruangan per ruangan, tingkat per tingkat sampai dengan secara keseluruhannya.
12. Lumion3d
Lumion adalah alat visualisasi untuk real-time membuat film 3D dan masih gambar awal, arsitektur dan desain. Anda juga dapat memberikan animasi. Lumion menawarkan grafis yang sangat baik dikombinasikan dengan alur kerja cepat dan efisien, menghemat waktu, tenaga dan uang.
Lumion set up adegan menggunakan antarmuka berbasis GPUdan penuh 3D real-time editing. Ini menyediakan untuk penciptaan lansekap, pengaturan siang hari, matahari, langit, awan dan air. Rendering sangat optimal membuat menambahkan ton konten untuk adegan se 3D mungkin.
13. SAP2000
Program SAP2000 dapat melakukan perhitungan analisis struktur statik / dinamik, saat melakukan desain penampang beton bertulang maupun struktur baja, SAP2000 juga menyediakan metode interface (antarmuka) yang secara grafis mudah digunakan dalam proses penyelesaian analisis struktur.
Urutan proses analisis dan desain struktur dalam SAP2000 adalah sebagai berikut :
1. Penentuan Model Strutur
2. Penetapan Penampang Struktur
3. Penetapan Penampang Elemen Struktur
4. Penetapan Kondisi Pembebanan
5. Penentuan Beban pada Struktur
6. Analisis Model
7. Penampilan Deformasi Struktur
8. Penampilan gaya-gaya dalam
9. Pemeriksaan Tegangan Elemen
Pada umumnya SAP2000 digunakan untuk menganalisis struktur bangunan atas, sehingga jarang orang menggunakan untuk analisis pondasi bangunan.
Reference :
https://ristekhimatesil.wordpress.com/2014/05/12/software-yang-sering-digunakan-dalam-teknik-sipil-dan-arsitektur/ http://diniputri15yahoocom.blogspot.com/2012/02/12-jenis-software-dalam-arsitektur.html?m=1
Arsitektur Eropa
Macam Seni Arsitekur di Eropa
Sejarah merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan. Ilmu sejarah merupakan media komunikasi dengan masa lalu, dimana kebudayaan mulai berkembang. Melalui proses pembelajaran sejarah, kehidupan dan budaya masa lampau dapat diketahui, baik proses maupun dampaknya. Didalam arsitektur, sejarah juga memegang peranan penting dalam menentukan bentukan atau langgam, disamping budaya masyarakatnya. Karena arsitektur adalah suatu hal yang berkembang dan kadangkala mengalami suatu siklus, maka sejarah arsitektur perlu dipelajari.
Dalam hal ini, peradaban manusia yang tercatat dalam sejarah, terutama didaratan Eropa dan sekitarnya mengalami kemajuan luar biasa, dimana seni bangunan dan ilmu struktur berkembang secara menakjubkan. Seni bangunan ini kemudian disebut sebagai arsitektur klasik, karena prinsip-prinsip, konsep dan romantika bangunan pada jaman itu akan tetap abadi.
Salah satu jenis arsitektur yang menarik disini adalah arsitektur Byzantium, selain Arsitektur binzantyum juga terdapat jenis arsitektur Gothik yang berkembang pada abad pertengahan.
1. Arsitektur Binzantyum
Pada dasarnya seni di zaman ini merupakan kelanjutan dari seni zaman Yunani. Karena pada mulanya daerah Eropa Timur yang disebut Byzantium adalah koloni
bangsa Yunani sejak tahun 660 sebelum masehi, yang kemudaian menjadi bagian wilayah kekaisaran Romawi (Lucas, 1993 : 51). Konstantin agung mengundang banyak seniman ke Byzantium untuk membangun kota yang terletak di persimpangan antara selat Bosphorus dan laut Mamora. Kota ini kemudian dinamakan atas namanya, yaitu Konstantinopel, dan pada tahun 330 diresmikan sebagai ibukota Romawi Timur.
Dalam sejarah seni, Bynzantium menduduki posisi yang tinggi. Gaya arsitektur Byzantium yang bermula pada abad VI ini tumbuh dari berbagai dasar dan akar kebudayaan.
1. gaya klasik seni Romawi Hedonis yang tidak berbau keagamaan
2. budaya pembuatan makam bawah tanah gaya gereja Kristen-Romawi dari abad II – III
3. banyaknya pembangunan gereja Kristen kuno di Yunani
Karakter arsitektur Byzantium yang berawal dari abad kelima hingga saat ini, dicirikan oleh perkembangan gaya baru dari kubah untuk menutup bidang poligon atau persegi untuk gereja, makam, dan tempat pembabtisan ( Lucas, 1993 : 53).
Penggunaan sistem kubah untuk konstruksi atap bertolak belakang dengan gaya Kristiani kuno berupa penopang-penopang kayu dan juga gaya lengkung batu Romawi. Cita-cita arsitektur Byzantium adalah mengkonstruksi atap gereja dengan atap kubah, karena kubah dianggap symbol dari kekuasaan yang Maha Esa. Membangun kubah diatas denah bujur sangkar menimbulkan kesulitan. Pada arsitektur Romawi juga ditemui kubah, tetapi semua dengan denah lingkaran. Contoh yang ditiru bangsa Byzantium adalah kubah dari bangsa Sassanid dari Timur, yang membangun kubah-kubah diatas denah bujursangkar, walau ukurannya sangat kecil.
Bangsa Byzantium kemudian mengembangkan konstruksi kubah demikian yang dapat mencakup ruang-ruang yang sangat luas, seperti pada gereja Aya Sophia. Kubah tersebut, yang menjadi tradisional bangsa Timur, menjadi motif umum asitektur Byzantium, yang merupakan gabungan dari konstruksi kubah dengan gaya kolumnar klasik. Kubah dengan bermacam-macam variasi dipakai untuk menutupi denah persegi dengan teknik ‘Pendetives’. Untuk mengerti bentuk pendetive, dapat dengan meletakkan setengah buah jeruk pada piring dengan bagian terpotong (yang datar) menghadap piring. Kemudian jeruk tersebut dipotong pada tiap sisinya secara vertikal dengan ukuran yang sama. Yang tersisa dari jeruk tersebut kemudian adalah hemisphere yang disebut kubah pendetive.
Tiap potongan vertikal itu berbentuk setengah lingkaran, kadangkala setengah lingkaran tersebut dibangun sebagai lengkung – lengkung struktur yang menyokong permukaan parabola bagian atas dari kubah. Bila bagian atas jeruk tadi dipotong secara haorisontal, maka lingkaran yang terjadi, masih berbentuk pendetive, dapat digunakan sebagai dasar membuat kubah baru, atau bentuk silinder dapat diletakkan diatas dasaran tersebut untuk menyokong kubah lain yang lebih tinggi.
Kubah dan lengkung Byzantium diperkirakan dibuat tanpa menggunakan penyokong sementara atau perancahan atau ‘centering’ dengan penggunaan batu bata datar yang besar, hal ini merupakan sistem yang cukup nyata yang kemungkinan didapat dari metode Timur. Jendela – jendela disusun pada bagian bawah kubah, yang pada periode berikutnya dinaikkan letaknya pada ‘drum’ yang tinggi, sebuah penampilan yang kemudian dikembangkan pada arsitektur Renaissance barat dengan penambahan peristyle luar. Sekelompok kubah kecil atau semi kubah mengelilingi kubah pusat yang besar sangat efektif dan menjadi penampilan karakteristik gereja Byzantium adalah perwujudan dari lengkung dan kubah yang menggantikan rangka atap kayu.
Sistem konstruksi perletakan batu bata, yang diperkenalkan oleh bangsa Romawi berkembang menjadi semacam pembuatan dinding bata secara umum, dan hal ini diadopsi untuk membentuk arsitektur Byzantium. Rangka dinding batu bata terlebih dahulu diselesaikan dan dibiarkan mapan sebelum lapisan permukaan interior dan lantai marmer dipasang, bagian komponen bangunan yang berdiri sendiri ini menjadi karakterisik dari konstruksi Byzantium. Dinding bata bagian luarnya bebas didekorasi dengan bemacam-macam pola dan ikatan, sementara bagian interiornya biasanya dilapisi atau ditutupi dengan marmer, mosaic, dan lukisan-lukisan dinding.
Penggunaan batu bata yang sama dengan bata Romawi, sekitar satu setengah inchi tebalnya, dan diletakkan pada lapisan tebal mortar. Mortar sebagai perekat antara batu bata berupa campuran antara kapur dan pasir, dengan pecahan tanah liat, keramik atau bata, yang hasilnya sama kerasnya dengan bangunan terbaik di Roma. Karakter dekoratif permukaan luar sangat tergantung pada penyusunan batu bata, yang tidak selalu dipasang secara horisontal, tapi juga terkadang dipasang miring, terkadang juga dalam bentuk berliku-liku, berkelok-kelok, berbentuk chevron atau pola tulang ikan Herring dan banyak macam desain sejenisnya lainnya, memberikan variasi pada fasade. Cara lain yang juga dicoba untuk menghias dinding bata yang kasar adalah dengan penempelan batu dan lengkung – lengkung dekoratif. Dinding – dinding luar dilapisi marmer, lengkung – lengkung dan kubah dihias dengan kaca mosaik berwarna dengan latar belakang keemasan.
Gereja Constantinople, Nicaea, dan Salonica adalah contoh sempurna dari penggunaan dekorasi semacam ini. Tetapi kecintaan pada dekorasi permukaan tidak berhenti dengan ukurin besar dan bentukan pita, untuk Byzantine, seperti Roma, kecintaan pada warna hampir sama besar dengan bentuk, jadi sesuai dengan itu, metode Roma lama tentang selubung interior bangunan dengan papan dari warna mamer telah membawa menuju puncak kompleksitas dan kekayaan; dan mosaic kaca, yang telah juga digunakan oleh Roma, menjadi, perkembangan bentuk tingkat tinggi, metode hebat dari dekorasi interior pada bagian atas tembok dan samping bawah semua kubah.
Bangunan – bangunan yang berdiri merupakan puncak prestasi arsitektur Bynzantium.
Gaya bangunan bynzantium tersebar di kawasan Mediterania dan bahkan sampai di Rusia. Orang-orang Arab juga kemudian mengadopsinya untuk membangun masjid-masjid mereka. Contohnya adalah bangunan Kubah Batu atau dome of the rock. Dome of The Rock memiliki bentuk octagonal yang bagian atasnya berupa kubah, Bangunan ini merupakan bangunan monumental bagi umat Islam yang desainnya yang corak arsitekturnya tidak terlalu khas bangunan ibadah muslim, selain itu Bentuk denah Dome of The Rock adalah octagonal (segi delapan).
Cirri kas utama seni arsitektur Bynzantium adalah keserba agungan, yang memberikan efek impresif di atas segalanya. Figur-figur yang digambarkan dalam mosaic Bynzantium hamper semuanya berkaitan dengan agama, Contohnya adalah penyalipan dan kenaikan kristus. Seni Bynzantium pada dasarnya adalah seni cangkokan. Unsure-unsur diambil dari provinsi-provinsinya, serta negeri-negeri tetangga. Namun, yang paling dominan adalah pengaruh yunani.
2. Seni Arsitektur Ghotik
Istilah ghotik mengacu pada seni arsitektur, lukis, dan pahat. Tiga abad terakhir zaman pertengahan. Istilah ini berasal dari para penulis akhir abad pertengahan yang lebih menaruh kebudayaan Yunani-Romawi (Suru,1991 : 49). Mereka menyangka bahwa suku Goth yang barbar telah menghancurkan kebudayaan klasik dan lalu menciptakan Gothik yang barbar. Dewasa ini kita tahu bahwa arsitektur Ghotik bukan dari suku Ghot dan juga tidak bersifat barbar. Arsitektur Ghotik adalah kreasi para para genius abad pertengahan.
Karya seni patung Gothik awal adalah dari pengaruh agama Kristen, serta lahir dari dinding gereja dan biara. Patung yang terdapat di chartes chatredral (sekitar tahun 1145) di Perancis merupakan karya patung awal zaman Gothik. Pengaru arsitektur Ghotik lebih luas dari gaya Romanesque. Perbedaan utama antara kedua gaya ini adalah bahwa gaya Ghotik serba lancip, sedangkan gaya Romanesque serba bundar.
Menurut arsitek pada masa itu, dengan memakai lengkungan yang lancip, atap tidak perlu ditinggikan. Lengkungan gaya Ghotik yang lancip ternyata tidak hanya mengurangi topangan samping, tetapi juga meringankan bobot atap.
Dengan menggunakan kubah yang berbentuk kurva memanjang, lengkungan lancip, penyangga berbentuk empat persegi panjang (pilaster),tiang-tiang, maka atap gereja gaya Ghotik bisa di buat tinggi menjulang.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada periode ini di antaranya:
1. Ketinggian langit-langit yang jauh melebihi skala manusia, terutama pada gereja-gereja dan katedral.
2. Bentuk busur yang meruncing, dikarenakan keinginan untuk menciptakan atap meruncing sebagai ciri arsitektur vernakular Eropa. Hal ini merupakan tuntutan iklim salju.
3. Pengembangan bentuk rib vaults—bentuk kubah yang menyerupai rusuk.
4. Kolomnya berkembang menjadi kolom strutural dan non struktural.
5. Bukaan-bukaan yang lebar, sehingga arsitektur Gothik identik dengan permainan cahaya di interior. Permainan cahaya ini bertujuan untuk menambah keagungan dan unsur spiritual.
Timbulnya seni Ghotik adalah akibat dari suatu dorongan daya cipta yang berakar pada pandangan hidup jamannya, dapat di simpulkan bahwa latar belakang yang mempengaruhi perkembangan seni Ghotik antara lain :
1. Pertumbuhan kota yang sehat,
2. Kekuasaan dan pola hidup gereja,
3. Kekuasaan kaum ningrat serta
4. Perkembengan keduniawian baru.
Di bidang seni bangun seni Gotik banyak memiliki sifat-sifat seni bangun Romawi. Misalnya, bagian timur gereja dilengkapi dengan gereja-gereja kecil yang menonjol dan dapat di pindah-pindahkan, penggunaan beberapa menara, cara menempatkan tiga buah pintu di sebelah muka bagian barat, cara membagi atau memisahkan ruang pemakaman menjadi enam dan beberapa corak lainnya. Arsitektur Gotik merupakan perpaduan antara tipe-tipe tradisioanal yang luas dengan bentuk-bentuk gubahan abad pertengahan. Hasilnya serba mewah dan vertikal. Sifatnya menunjukkan kemenangan ketenangan, intelektual dan keharmonis antara perpaduan dan unsur-unsur estetika, struktur dan tujuan. Sepanjang masa Gotik, gereja kristen dalam segala hal bersifat Universal, dan sampai pada masa mencapai puncaknya makin lama makin mengarah keutara.
Prancis merupakan pusat perkembangan dan penyempurnaan seni gotik di eropa. Seni Gotik mencapai keharmonisan di Perancis, seperti terlihat dalam arsitekturnya. Langit-langit lengkung tajam bersilang yang membentuk susunan motif lingkaran, menjadi dasar sistem dan struktur seni bangunan Gotik. Pola yang terkenal adalah pola flamboyan. Semula memakai garis-garis geometrik. Kemudian memakai motif tumbuh-tumbuhan. Semua ekspresi seni Gonik itu nampak pada seni bangun gereja Gotik di perancis. Misalnya:
a. Kathedral Notre Dame di Chartres
Kathedral merupakan contoh yang paling jelas tentant corak seni Gotik, karena tidak mengalami perubahan. Nilai tingkat keseniannya dianggap sejajar dengan kuil Parthenon di Yunani. Di bagian depan dinding sebelah barat terdapat portal raja (pintu gerbang raja) dan bentuk “thimpanon” dengan hiasan relief tokoh Kristus dalam “mandorla” berbentuk oval serta-serta figur-figur symbolis yang mengililingnya. Di bawahnya dipahatkan 12 tokoh berderet, sedangkan untuk mengisi bagian atasnya (lengkung atas) ditempatkan 24 tokoh lain.
b. Kathedral Notre Dame di Paris.
Di bangun di atas pulau kecil ditengah-tengah kota Pasir. Kathedral itu nampak besar megah dan dramatik. Beberapa bagian gereja itu menunjukkan gaya Romana dan beberapa bagian lainnya menunjukkan corak Gotik. Ruang tengah lebar dan ruang samping berganda. Transept sangat sempit. Gegreja tersebut memiliki banyak patung, tetapi sayang banyak yang rusak pada waktu revolusi Prancis.
c. Kathedral Amiens
Gereja itu dari depan nampak mengesankan sekali karena ditempatkan bentuk jaringan batu dengan pilar-pilar dinding dan patung-patung portal yang menarik. Hal tersebut besar pengaruhnya bagi gereja-gereja lainnya. Patung “ Blau Deau” yakni tokoh Kristis yang dilukiskan sedang mengajar yang ditempatkan di dalam gereja itu yang menunjukkan gaya klasik.
d. Kathedral Rhemis
Gereja itu mengalami beberapa kali perubahan altar ruang tengah, bagian depan serta menaranya. Bagian luar gereja itu bersifat terbuka dengan pilar-pilar terbang berganda.
e. Kathedral St.Denis
Merupakan gereja biara, dan antara lain menjadi tempat makam raja-raja Perancis. Bentuk asli gereja tersebut banyak mengalami perubahan. Pada tahun 1240, arsitek Piere de Montereau membangun sebuah serambi dengan lampu-lampu yang mengarah ke ruang. Penambahan bangunan serambi semacam itu menyebabkan serambi tersebut menjadi bagian dari dinding yang berjendela, sehingga ukuran serambi disesuaikan dengan ukuran jendela.
Abad XIII merupakan puncak perkembangan arsitektur Ghotik. Selama pemerintahan Raja Louis IX (1226-1270) bermunculah karya-karya besar seperti katedral-katedral di Reims, Amiens, Paris, Beauvais, dan yang terbagus adalah katedral Sainte Chapelle. Meskipun arsitektur Ghotik pada mulanya muncul disekitar paris, ini tidak berarti bahwa gaya ini semata-mata milik prancis. Arsitektur ini tetap di anggap sebagai hasil dari semangat kreatif kristianitas.
3. Seni Arsitektur Romanesque
Seni yang berkembang sekitar tahun 1000 hingga 1200, merupakan kembangkitan kembali akivitas seni abad pertengahan karena kondisi social dan ekonomi pada abad X mengalami peningkatan. Gereja-gereja yang dibangun dengan gaya baru di segala penjuru eropa barat mengingatkan kembali pada basilica-basilika.
Reference :
http://godfrey-sejarah.blogspot.com/2012/03/arsitektur-eropa.html?m=1
Jenis-Jenis Langgam Arsitektur
1.1 Langgam Klasik
Langgam Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik mendesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani atau Romawi, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan Kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani. Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dll. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun arsitektur klasik juga banyak memiliki nafas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna.
Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur dan dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit. Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun di masa sekarang.
1.2 Langgam Arsitektur Modern (Cubism, de stijl, Bauhauss, dan International Style).
Arsitektur modern merupakan Internasional Style yang menganut Form Follows Function (bentuk mengikuti fungsi). Bentukan platonic solid yang serba kotak, tak berdekorasi, perulangan yang monoton, merupakan ciri arsitektur modern. Arsitektur modern mempunyai pandangan bahwa arsitektur adalah olah pikir dan bukan olah rasa (tahun 1750), dan permainan ruang dan bukan bentuk.
Ciri ciri dari arsitektur modern adalah :
Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam)
Merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis.
Berupa khayalan, idealis
Bentuk tertentu, fungsiona
Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monoton karena tidak diolah.
Less is more
Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut.
Ornamen adalah suatu kejahatan sehingga perlu ditolak.
Penambahan ornamen dianggap suatu hal yang tidak efisien. Karena dianggap tidak memiliki fungsi, hal ini disebabkan karena dibutuhkan kecepatan dalam membangun setelah berakhirnya perang dunia II.
Singular (tunggal)
Arsitektur modern tidak memiliki suatu ciri individu dari arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya (seragam).
Nihilism
Penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apaapanya kecuali geometri dan bahan.
1.3 Langgam Post Modern
Ciri ciri umum Arsitektur post modern :
Untuk lebih memperjelas pengertian arsitektur post modern, Charles Jencks memberikan daftar ciriciri sebagai berikut :
1. Ideological
Suatu konsep bersistem yang menjadi asas pendapat untuk memberikan arah dan tujuan. Jadi dalam pembahasan Arsitektur post modern, ideological adalah konsep yang memberikan arah agar pemahaman arsitektur post modern bisa lebih terarah dan sistematis.
2. Stylitic (ragam)
Gaya adalah suatu ragam (cara, rupa, bentuk, dan sebagainya) yang khusus. Pengertian gaya gaya dalam arsitektur post modern adalah suatu pemahaman bentuk, cara, rupa dan sebagainya yang khusus mengenai arsitektur post modern:
3. Design Ideas (Ide-Ide Desain)
Ide-ide desain adalah suatu gagasan perancangan. Pengertian ide-ide desain dalam Arsitektur Post Modern yaitu suatu gagasan perancangan yang mendasari Arsitektur Post Modern.
Contextual Urbanism and Rehabilitation
Kebutuhan akan suatu fasilitas yang berkaitan dengan suatu lingkungan urban.
1.4 Langgam Purna Modern
Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari sebutan post-modern versi Charles Jencks. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan unsur-unsur kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno. Menyertakan warna dan tekstur menjadi eleman arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang. Tokohnya antara lain Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell. Langgam Arsitektur purna modern ini yang lebih di tonjolkan dalam fungsinya adalah fungsifungsi metaforit (simbolik) dan historical. Arsitektur purna modern dimana bentuk-bentuk tersebut menempati posisi yang lebih dominan dari pada ruang. Arsitektur purna modern memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past).
1.5 Dekonstruksi
Arsitektur Dekonstruksi tidak mengikatkan diri ke dalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi Ini merupakan kesombongan dekonstruksi. Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.
Dekonstruksi yang dikomunikasikan adalah :
a. unsur-unsur yang paling mendasar, esensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.
b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.
c. Dekonstruksi menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.
Reference:
https://sarisanisah.wordpress.com/2014/01/10/jenis-jenis-langgam-arsitektur/
Macam-Macam Arsitektur
1. Arsitektur Mediteranian
http://blog.propertykita.com/wp-content/uploads/2014/01/1.-Lebih-Dekat-Menuju-Rumah-Modern-Mediterania.-2.jpg
Gaya arsitektur mediteranian diinspirasi dari bangunan yang ada di Italia dan Spanyol. Gaya arsitektur mediteranian memiliki ornament yang lebih sederhana, memberikan kesan yang mengutamakan kenyamanan. Pada akhir tahun 90-an gaya arsitektur ini mulai banyak diterapkan pada disain rumah-rumah di Indonesia.
Ekseterior pada bangunan bergaya arsitektur mediteranian umunya dinamis. Tata letak masa bangunan yang menyebar pada rumah dengan lahan yang luas, meskipun ada juga rumah bergaya mediteranian dengan komposisi bentuk yang kompak, untuk rumah pada lahan yang lebih terbatas. Balkon-balkon yang menonjol keluar fasad/muka bangunan tanpa atap dan railing balkon, dan jendela memiliki ukuran lebih kecil dan sedikit, juga merupakan ciri khas arsitektur mediteranian.
Interior berdimensi lebih fungsional, bagian langit-langit umumnya langsung mengekspos struktur atap dan tidak terlalu tinggi. Untuk bangunan bertingkat langit-langit memperlihatkan langsung struktur lantai. Tapi di Indonesia umumnya masih menggunakan plafond, baik pada bangunan satu lantai maupun rumah bertingkat. Hal ini dkarenakan presepsi sebagian besar orang Indonesia yang menganggap sebuah rumah belum lengkap jika tidak memiliki plafond.
Ruangan pada rumah bergaya arsitektur mediteranian juga memiliki ukuran luas yang lebih efisien, tidak berlebihan besarnya seperti bangunan klasik. Namun tata letak ruangan masih tetap terpisah-pisah menggunakan pemisah masif seperti dinding.
Bahan bangunan pada gaya arsitektur mediternian umumnya menggunakan bahan bangunan yang natural, seperti kayu dengan finishing mate/dof, besi tempa/wrough iron, penutup lantai keramik berjenis rustic dengan nat yeng lebar (+/- 4-7 mm) batu alam berwarna muda (cream, beige) meskipun banyak juga yang menggunakan cat sebagai finishing eksterior terutama interior.
Ciri umum rumah dengan gaya arsitektur mediteranean antara lain:
Sudut kemiringan atap yang landai
Mengggunanakan atap genteng tanah natura (merah)
Stucco siding
Bagian atas pintu, jendela, teras berbentuk busur
Pintu panel kayu yang kokoh dan solid
Railing besi tempa
Lantai rustik
2. Arsitektur Country
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAmaHJ-cXkz3enB5PQNguuob3BzRTkTXFsOWVtxBAi7k5llklNlLxsbVM0TqPejPovQMpQkHnnXEoELW7VfIdbIzmasCekWfwGE0YpPaAktY9rZJ9LNzFiMxEkEZpCz17svUUrrBZ38Baj/s400/Modern-and-Unique-Architecture-Building.jpg
Rumah dengan gaya arsitektur country adalah gaya arsitektur yang merefleksikan rumah-rumah di pedasaan yang dekat dengan alam, dan memberikan peran pada alam dalam hal sirkulasi udara tata cahaya dan bahan bakunya. Rumah dengan gaya arsitektur country sangat tepat untuk mendapatkan kenyamanan, lebih dekat dengan alam. Rumah dengan gaya arsitektur country semakin sempurna jika ditunjang dengan lansekap yang luas dan asri. Gaya arsitektur country ini juga disesuaikan dengan iklim lokasi rumah, yang kita bahas disini adalah rumah arsitektur country di daerah tropis khususnya Indonesia.
Eksterior rumah bergaya country disajikan dengan dimensi overstek yang lebar meneduhi jendela dan pintu masuk. Teras yang luas di bagian depan dan belakang yang seringkali dilengkapi dengan furniture untuk duduk santai. Massa bangunan umumnya melebar atau memanjang.
Interior lebih luas dan transparan, langit-langit mengekspos struktur atap. Sistim sirkulasi udara sangat mengutamakan peran alam dengan membuat jendela yang agak besar dan banyak.
Ruang-ruang pada rumah bergaya arsitektur country umumnya saling berhubungan tanpa dibatasi dengan pemisah ruang yang mutlak. Railing, wall cabinet, perbedaan level lantai menjadi alternatif dalam menciptakan ruang-ruang.
Bahan bangunan yang natural/alami adalah bahan bangunan yang mendominasi rumah bergaya arsitektur country. Kayu dengan serat yang jelas dan kasar, batu alam, lime stone, batu kali yang dikerjakan dengan pengerjaan yang sederhana namun tetap rapi.
3. Arsitektur Modern
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhprsibMMTvQFRXUM2yHoIULqbSRH7PR7ZVmMx4jCSVFMgYFB7iuc1Zu4jABoBjwtMpOpiiLOfFfehPL-K0JJB1hUAtbkgl4auWIzWF5VGTxbG64KRnWqYVGhdQeynR8tS1KGrkBvdJvdsc/s1600/1733401-Modern-Architecture-0.jpg
Arsitektur modern memiliki ornamen yang minim dan fungsional. Pada arsitektur modern fungsi lebih diutamakan dalam menentukan bentuk, ukuran dan bahan. Di Indonesia rumah-rumah dengan gaya arsitektur modern mulai banyak diterapkan pada awal tahun 70-an.
Di masa sekarang pun banyak rumah-rumah baru yang dibangun dengan gaya arsitektur modern dengan penyesuaian terhadap bahan bangunan dengan teknologi terkini, perkembangan budaya dan wawasan serta gaya hidup penghuninya.
Eksterior rumah dengan gaya arsitektur modern didominasi dengan jendela yang berukuran lebar dan atau tinggi, lis plang beton memanjang dan kanopi yang menjorok ke depan. Dengan kolom yang sederhana atau bahkan tanpa kolom. Bentuk masa rumah modern di dekorasi dengan ornamen garis vertikal, horizontal, dan diagonal yang sederhana pada dinding eksterior yang luas. Interior rumah modern ditata dengan ornamen yang sederhana, langit-langit bertingkat dan void di ruang-ruang publik yang memberikan kesan luas.
Ruang pada rumah dengan gaya arsitektur modern umumnya transparan, menerus, ruang-ruang saling terhubung dengan ruang-ruang perantara dibatasi oleh dekorasi interior yang tidak masiv.
Bahan bangunan berupa stainless steel finishing polished, aluminum anodized,glossy tile, kaca berwarna / tinted glass, marupakan bahan dengan jenis finishing mencirikan rumah modern dimasa-masa awal berkembangnya di Indonesia. Disaat sekarang ini banyak bahan bangunan dengan teknologi modern yang menjadi komponen penting seperti galvanized metal, granitile, grc, perforated metal dll.
Beberapa ciri arsitektur modern sebagai berikut:
Asimetris
Orientasi pola horizontal
Atap datar
Tidak ada cornice /profil atap
Bentuk Kotak
Halus
Penampilan efisien
Sudut lengkung
Jendela Kaca
Aluminium dan stainless steel trim pada pintu dan jendela
Panel mengkilap
Baluster metal
Deretan jendela atau garis-garis
Sedikit atau tidak ada hiasan
Denah terbuka
4. Arsitektur Klasik
http://noverina.files.wordpress.com/2011/04/6.jpg
Gaya arsitektur klasik, memberikan kesan aristokrat yang mewah pada bangunan. Pilar-pilar, ornament, dan profil-profil pada list plang dan bingkai jendela disajikan dalam seni Romawi atau Yunani kuno menjadi cirri khas arsitektur klasik. DI Indonesia gaya arsitektur klasik mulai banyak digunakan pada bangunan rumah tinggal pada awal tahun 80-an. Bahkan hingga saat ini pun asih banyak rumah-rumah baru yang menggunaka gaya arsitektur klasik.
Eksterior juga menjadi hal penting pada bangunan klasik. Umumnya bangunan klasik memiliki ukuran yang melebihi kebutuhan fungsinya. Tata letak jendela yang teratur/monoton pada tampak depan bangunan, dan komposisi bangunan yang simetris juga mrupaka ciri bangunan klasik.
Interior klasik umumnya memiliki ketingian plafond idealnya melebihi 3,5 meter, sehingga bisa mengekspresikan kemegahan. Profil-profil yang detail menghisai pertemuan antara plafond dengan dinding bangunan. Tangga pada bangunan klasik dibuat lebar dalam bentuk lengkung/curva pada sebagian atau seluruh bagian tangga.
Ruangan – ruangan pada rumah klasik juga umunya di buat terpisah-pisah dan dalam ukuran yang extra besar. Mulai dari pintu masuk di bagian depan, ruang penerima(foyer) ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, dll dipisahkan dengan dinding solid. Ada kalanya koridor digunakan sebagai penghubung antara ruang-ruang yang berjauhan. Karena memang idealnya rumah brgaya arsitektur klasik di bangun di atas lahan yang luas.
Bahan bagunan yang digunakan pada bangunan klasik umunya adalah bahan-bahan alam. Pengolahan erhadap bahan-bahan bagunan klasik juga perlu mengekspresikan seni di masanya seperti besi-besi cor, marmer, batu alam adalah bahan – bahan yang ideal untuk menyajikan bengunan dengan gaya arsitektur klasik. Sangat tidak serasi jika mebuat rumah dengan gaya arsitektur klasik pda bagian jendela kita mnggunakan bahan aluminum dengan finishing anodized. Karena pertimbangan kemudahan perawatandan biaya adakalanya kita terpaksa menggunakan bahan aluminum, hanya saja kita perlu mempertimbangkan finishing yang kita gunakan agar rumah klasik menjadi benar-benar konsisten terhadap konsepnya, maka kita gunakan finish pwder coating warna putih.
Beberapa ciri arsitektur klasik antara lain:
· Bentuk Simetris
· Kolom/PilarTinggi yang menjulang.
· Segitiga pediment
· Atap kubah
5. Arsitektur Gotik
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/71/Koelner_Dom_Innenraum.jpg
Arsitektur Gotik merupakan kelanjutan dari jenis arsitektur romantic. Arsitektur ini menonjolkan kolom-kolomnya yang besar sehingga memebrikan kesan megah dan agung , jenis ini juga sangat memeprhatikan detail-detail arsitektur yang ada. Ciri khusus lainnya adalah pemberian patung-patung yang sangat banyak dan beragam, biasanya yang digunakan sebagai vocal point atau point of interest adalah bagian pintu masuknya, arsitektur ini juga menggunakan banyak kaca-kaca mozaik berbentuk bunga, ciri atapnya sangat tinggi melengkung agak lancip. Contoh bangunan jenis ini adalah Gereja-Gereja Gotik yang muncul pada abad 12 – abad 16-an.
6. Arsitektur Barok
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgI7vkNI0wdhV_3lKEY6HSQaWg_iHLVD4RwmrSyOJ-yWw7GyqQrD8314nvUZVoezw0Pn09mbK0i2iiC760g5kSF9odFEtTH5xr65HNSqr-BKxsXgjh8m-EXCKKpDczmRa_JTDZBj9kx/s1600/craiova-baroque.jpg
Arsitektur Barok adalah jenis arsitektur yang mancul pada tahun 1600-1700an. Bangunan dengan jenis ini biasanya memiliki ukuran yang sangat besar (megah) berskala monumental seperti Istana, Gereja, dll. Permainan cahaya yang ada pada jenis arsitektur ini memebrikan kesan dinamis. Arsitektur ini diperindah dengan corak-corak lukisan dinding dan ukiran-ukiran yang berukuran besar pada dinding-dindingnya. Contoh arsitek pada era ini adalah Francesco Borromini, Pietro da Cortona, Gian Lorenzo Bernini, Carlo Maderno, Baldassare Longhena, Nicholas Hawksmoor, dll.
7. Arsitektur Neo-Klasik
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUNfd3gBVUxWMfvbqdtpXVFfFOVD1WcnlgdFRisBik28Uj9ezUqsqUsHh-MLR77MqOE_Ql1aPhepVSYTfduwortS-eAYBIbueNMuMaasoF0zoTNwuUuSn1CeZ25pMugaDtr9IsQyYwhok/s1600/Claude+Nicholas+Ledoux+-+Ch%25C3%25A2teau+de+B%25C3%25A9nouville%252C+Prancis.jpg
Jenis arsitek ini dikenal pada abad ke 18-19. Arsitektur Neo-klasik merupakan jenis yang mulai mengarah pada tahap modern. Berawal di Inggris. Pada zaman itu jenis arsitek ini dianggap merupakan perlawanan dari jenis arsitek romantic dan renaisans . Contoh arsiteknya adalah Karl Friedrich Von Schinkel, Sir John Soane.
8. Arsitektur Lansekap
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5wRkooZ34baH2yCMmNDfhhPxsau_mQPnQbPPb9ZTLdJkLnJXP0K5hwGz0Zn_VZ4zZw-zz8JBQtGzfDkYBaht-M2WpSc2OPx3uTOqkOosu4pPEqie2aBZex2kLGquwQy-5sgoxkuoBsEwX/s1600/desain-lansekap.jpg
Adalah ilmu yang mempelajari tentang seni, perencanaan, perancangan, manajemen, perawatan, dan perbaikan tanahdan perancangan konstruksi buatan-manusia skala besar. Ruang lingkup dari profesi ini termasuk desain arsitektural, perencanaan lokasi, pengembangan estate, restorasi lingkungan, perencanaan kota, perencanaan taman dan rekreasi, perencanaan regional, perencanaan ruang, dan perawatan sejarah.
Arsitek lansekap dianggap merupakan sebuah profesi yang setara dengan dokter dan pengacara, karena mereka membutuhkan pengajaran khusus dan lisensi profesional, seperti yang dibutuhkan oleh pekerja profesional lainnya.
9. Arsitektur Islam
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzcbhL39QOE1_hEr1PcWqK_uwj6JpZVogUg6Px4zRuhdC1F2nfDq4QszdCz235ZDhwYm627PoFt-G-n9PHh9oe9PjLW-6UxHDmKbEYim21znjPdEl3J5wCeoGSfthptLxZ1D_DxVyqcJk/s1600/TAJ_MAHAL.jpg
Berkembang sangat luas baik itu di bangunan sekular maupun di bangunan keagamaan yang keduanya terus berkembang sampai saat ini. Arsitektur juga telah turut membantu membentukperadaban Islam yang kaya. Bangunan-bangunan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan arsitektur Islam adalah mesjid, kuburan, istana dan benteng yang kesemuanya memiliki pengaruh yang sangat luas ke bangunan lainnya, yang kurang signifikan, seperti misalnya bak pemandian umum, air mancur dan bangunan domestik lainnya.
Pada tahun 630 M, Nabi Muhammad beserta tentaranya berhasil menaklukkan Makkah dari suku Quraish. Pada masa ini bangunan suci Ka'bah mulai didedikasikan untuk kepentingan agama Islam, rekonstruksi Ka'bah dilaksanakan sebelum Muhammad menjadi Rasul. Bangunan suci Ka'bah inilah yang menjadi cikal bakal dari arsitektur Islam. Dahulu sebelum Islam, dinding Ka'bah dihiasi oleh beragam gambar seperti gambar nabi Isa, Maryam, Ibrahim,berhala, dan beberapa pepohonan. Ajaran yang muncul belakangan, terutama berasal dari Al Qur'an, akhirnya melarang penggunaan simbol-simbol yang menggambarkan makhluk hidup terutama manusia dan binatang.
Pada abad ke-7, muslim terus berekspansi dan akhirnya mendapatkan wilayah yang sangat luas. Tiap kali muslim mendapatkan tanah wilayah baru, yang pertama kali mereka pikirkan adalah tempat untuk beribadah, yaitu mesjid. Perkembangan mesjid di saat-saat awal ini sangat sederhana sekali, bangunan mesjid tidak lain berupa tiruan dari rumah nabi Muhammad,[rujukan?] atau kadang-kadang beberapa bangunan diadaptasikan dari bangunan yang telah ada sebelumnya, misalnya gereja.
Gaya arsitektur Islam yang mencolok baru berkembang setelah kebudayaan muslim memadukannya dengan gaya arsitektur dari Roma, Mesir, Persia dan Byzantium. Contoh awal yang paling populer misalnya Dome of The Rock yang diselesaikan pada tahun 691 di Jerusalem. Gaya arsitek yang mencolok dari bangunan ini misalnya ruang tengah yang luas dan terbuka, bangunan yang melingkar, dan penggunaan pola kaligrafi yang berulang. Mesjid Raya Samarra di Irak, selesai pada tahun 847, bangunan berciri khas dengan adanyaminaret. Juga mesjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki turut memengaruhi corak arsitektur Islam. KetikaUstman merebut Istanbul dari kekaisaran Byzantium, mereka mengubah sebuah basilika menjadi mesjid (sekarang museum), yang akhirnya muslim pun mengambil sebagian dari kebudayaan Byzantium kedalam kekayaan peradaban islam, misalnya penggunaan kubah. Hagia Sophia juga menjadi model untuk pembangunan mesjid-mesjid Islam sselanjutnya selama kekaisaran Ustman, misalnya mesjid Sulaiman, danmesjid Rustem Pasha. Motif yang mencolok dalam arsitektur Islam hampir selalui mengenai pola yang terus berulang dan berirama, serta struktur yang melingkar. Dalam hal pola ini, geometri fraktal memegang peranan penting sebagai materi pola dalam, terutama, mesjid dan istana. Pemakaian kubah juga sama pentingnya dalam arsitektur islam, pertama kali muncul dalam Dome of The Rock pada tahun 691 dan muncul kembali sekitar abad ke-17.
10. Arsitektur Rococo
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQ3hriwYDFh-Dgdebadgfis7Z6IMTSmaj-KuekpgFkBSdR7Aki8FOU6_ePuFGoFqkH6fqzZLjiCQYz5RQE0AL7XL-VC5jSsaPmgM_7OtVw_rqjrTbqmjR5-NYGKbSzwf-dQK4YLGqEGwg/s320/rococo-buildings-8.jpg
Rococo pertama kali muncul di Perancis pada awal abad 18 sebagai lanjutan gaya barok, tetapi berlawanan dengan tema lebih berat dan warna lebih gelap dari Gaya barok, Rococo ditandai oleh suatu kekayaan, rahmat, suka melucu, dan keringanan. Rococo. Motifnya memusat pada gaya hidup yang aristokratis yang tanpa perlawanan dan roman picisan bukannya pertempuran gagah berani atau figur religius; mereka juga berputar luar dan alam. Dalam pertengahan akhir abad ke 18, rococo di kalahkan oleh gaya Neoclassic.
Arsitektur Rococo merupakan perkembangan lanjut dari arsitektur Barok, di mana bentuk-bentuk yang digunakan masih belum berubah. Contohnya adalah pada kolom-kolom interior Le Camus, Colisee, Champs-Elysees di Paris. Contoh lain adalah gereja Karlskirche (arsitek: Johann Fischer von Erlach; ta-hun penggarapan 1715 to 1737). Disini, bangunan ditonjolkan dengan adanya dua menara kembar di sebelah kanan-kiri portico berkolom gaya hexa-style Korintian. Sehingga kita dapati suatu bentukan entrance yang benar-benar mencolok mata di sini. Bentukan yang terjadi masih dapat dikategorikan sederhana, sedangkan bentukan-bentukan lengkung yang terjadi hanyalah sebagai identitas gaya ber-cirikan Barok-Rococo yang dipakainya. Bangunan Christ Church (arsitek Nicholas Hawksmoor; tahun pengerjaan 1715-1729) berbentuk pukal (massa) geometrik dan balok yang bersahaja, dengan portico beratap lengkung yang bercirikan Georgian yang tercampur dengan gaya khas Barok.
Kata Rococo merupakan suatu kombinasi dari bahsa perancis yaitu Rocaille, atau kerang, dan barocco Italia, atau gaya barok. Dalam kaitan dengan rococo, rokoko melambakngkan cinta, kurva cinta seperti kerang dan fokus pada hiasan bangunan. Beberapa kritikus menggunakan istilah ke yang menyiratkan bahwa gaya rokok adalah sembrono. Sejak pertengahan abad ke 19, istilah rokok telah diterima oleh sejarawan seni. Selagi ada keheningan tentang beberapa perdebatan tentang seni arti historis dari gaya rococo kini secara luas gaya ini dikenali sebagai periode utama di dalam pengembangan seni Eropa.
Istana Solitude di Stuttgart dan Istana Cina di Oranienbaum, gereja Bavarian Wies dan Sanssouci di Potsdam adalah contoh gaya bagunan rokok. Dalam Konteks kontinental itu gaya Rococo secara penuh terkendali, sportif, ajaib, dan dipahat dalam bentuk dekorasi interior ruangan yang abstrak menggunakan cahaya, motif seperti kerang atau dan hiasan yang berbentuk kurva,kesemuanya itu mengisyaratkan bagaimana gaya rokoko dalam arsitektur. Pada bagian dalam ruangan tembok diberi hiasan dan dekorasi yang indah, penuh motif yang aneh dinyatakan dalam material plastik seperti kayu yang diukir dan di atasnya diplester mengunakan semen. Dinding, langit-langit, mebel, dibuat dari bahan metal dan porselin.
Beberapa kritikus arsitektur mengisyaratkan bahwa gaya rokok berkembang dengan cepat pada ujung tahun 1720 dan mulai mempengaruhi bagian dalam dan seni arsitektur seluruh Eropa. dengan berbagai bentuk yang unik dan kaya yang dimilikinya membuat gaya Rococo berkembang tidak hanya di eropa tapi juga di Jerman.
Di Inggris, salah satu lukisan Hoghart membentuk suatu cerita kesusilaan sensasional tentang perkawinan bergelorà, yang diukir degan gaya rokok pada tahun 1745, menunjukkan ruang pawai dari suatu Rumah bergaya London, di mana satu-satunya gaya bangunan yang mempunyai langit-langit dengan gaya rokoko. Tidak hanya pada langit-langit rumah tetapi juga pada furniture seperti meja dan jam dinding. Dengan ciri khas gaya rokoko yang unik, sedikit tidak terkendali dan berantakan.
Ciri-ciri Langgam Rococo
· murni ornamental,
· ringan,
· kasual
· penggunaan warna pastel,
· keanggunan garis-garis lengkung serta mencirikan figure-figur indah.
Tokoh arsitektur Rococo adalah seniman Italian-Swiss seperti Bagutti dan Artari sedangkan arsitek James Gibbs, dan saudara kali-lakinya Franchini bekerja di Irlandia sebagai arsitek dekorasi rumah gaya rokoko. Gaya rokoko ini biasa ditemukan juga di Versailles, dan gaya ini membentang di sepanjang paris terutama Hôtel Soubise. Di Negara Jerman, Perancis dan seniman Jerman ( Cuvilliés, Neumann, Knobelsdorff, dll.) juga mengembangkan gaya rokoko. Beberapa tempat
berkembangnya gaya rokoko adalah Amalienburg dekat Munich, dan perbentengan Würzburg, Potsdam, Charlottenburg, Brühl, Bruchsal, Kesunyian ( Stuttgart), dan Schönbrunn.
11. Arsitektur Vernakulara
Vernakular, berasal dari vernacullus yang berarti lokal, pribumi. Arsitektur Vernakular sendiri ialah arsitektur yang terbentuk dari proses yang berangsur lama dan berulang-ulang sesuai dengan perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan di tempat asalnya. Pembentukan arsitektur berangsur dengan sangat lama sehingga aku imut sikap bentuknya akan mengakar. Latar belakang indonesia yang amat luas dan memiliki banyak pulau menyebabkan perbedaan budaya yang cukup banyak dan arsitektur merupakan salah satu parameter kebudayaan yang ada di indonesia karena biasanya arsitektur terkait dengan sistem sosial, keluarga, sampai ritual keagamaan.
Reference :
http://awansitek.blogspot.com/2011/12/macam-macam-arsitektur.html, google image http://ayinalitadesti.blogspot.com/2014/01/macam-macam-arsitektur.html?m=1
Langganan:
Postingan (Atom)












